Aku.. aku ingin berkeliling dunia
Hari ini, seperti sesuatu yang mustahil
Tapi aku tahu engkau maha pengabul doa.
Aku ingin pergi ke setiap
Negara, berdua dengan engkau Allah.
Aku.. aku ingin berkeliling dunia
Hari ini, seperti sesuatu yang mustahil
Tapi aku tahu engkau maha pengabul doa.
Aku ingin pergi ke setiap
Negara, berdua dengan engkau Allah.
Allah, bisakah aku bertahan?
Capee, bisa gak ya Allah
Susah, susah jadi ibu, susah jadi istri.
Susah Allah. Gak bisa, cape..
Rumah tenang, gimana caranya susah?
Kenapa, dulu aku begitu percaya diri ingin seperti ibunda Khadijah😭, gak bisa ya Allah, susah. Susah ya Allah. Aku gak bisa jadi tempat yang nyaman, gak bisa membuat rumah yang tenang. Suaraku melengking ke ujung rumah tetangga.
Allah, aku ingin sehat. Aku ingin tenang, aku ingin bahagia. Maafkan aku, aku belum bisa kalau engkau titipkan anak anak lagi. Gimana? Setiap bulan aku akan merasa menjadi ibu yang gagal. Setiap bulan ada fase dimana, yang kulihat hanya sebagai istri yang memberi beban. Mentalku tidak sehat Allah, aku takut melukai anak anak. Setiap aku melakukan kesalahan, membentak mereka rasanya aku ingin mengasingkan diri kesebuah pulau. Agar aku tak menyakiti mereka.
Aku sedikit gila ya Allah..
Liburan tahun 2025 ini kami pergi ke yogyakarta. Padahal bukan pertama kali kami berlibur kesini, tapi entah kenapa diperjalan ini, mengingatkan aku pada masa kecil ku sendiri.
Dimana kemana pun ibu mengajak ku, aku selalu menderita, karena mabuk perjalanan, moddnya yang selalu jelek, tak bahagia. Aku lihat muka muka yang tak ceria di poto kenang kenangan itu, dan yaa... aku seperti anak anak ku hari ini.
Aku jadi mengingat, sesabar itu ibu ku, dan aku jauh dari kata sabar, aku selalu merasa gagal jika perjalanan itu tak seperti yang ku bayangkan..
Aku jenuh, kata ku
Ternyata, hal hal yang aku inginkan dulu, tak selalu indah dijalani. Ingat sekali, ketika ku dulu memohon dengan sangat. Saat aku terpuruk, lelah, menderita karna cinta yang kurasakan tak bisa berlabuh. Hanya rasa suka seorang diri membuncah di dada seperti ingin meledak.
Tentu saja, aku menulis ini bukan karna ingin jatuh cinta lagi pada mereka yang ada di masa lalu, aku hanya rindu rasanya. Rindu saat aku memohon dengan sangat padaNya. Menangis tersedu, karna hati ini merindukan salah satu manusia ciptaanya.
Tetiba, saat aku itu juga aku membaca
"Berapa bodohnya manusia, dia menghancurkan masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan, tapi menangis di masa depab dengan mengingat masa lalunya"Ali bin Abi Thalib
Ah, aku ternyata si manusia bodoh itu
Iya aku si manusia bodoh itu, yang selalu ingin seperti masa lalu, karna hanya aku selalu merasa kesepian. Tapi ternyata setelah kunaca tulisan ku dulu. Sesibuk apapun yang kurasa memang rasa sepi.
Nyatanya jalan kehidupan ku ini tak pernah lepas dipeluk sepi. Bukan, bukan karna aku tinggal sendiri. Jelas aku punya suami dan empat anak, yang rumah ini tak pernah tak bising. Sepi itu ada di hati ku terdalam, tak pernah terpengaruh dengan lingkungan, ia tetap setia memeluk ku.
Lalu setelah aku tahu sepi itu memang selalu ada? Apa yang akan aku minta.
Aku hanya meminta semoga Aku bisa lebih baik dari kemarin. Semoga aku tak pernah mengeluh, sekoga aku berlapang menerima anak anak ku
Pagi tadi abi menyetir sambil mengantuk, dan terjadilah tabrakan, pelan sih, tapi deg degannya sampai sekarang
Hubungan suami istri ini rumit, kalau sudah abi memarahi ku untuk hal kecil, sudahlah..
I dont know, mungkin aku menyangkal atas setiap kesalahan, aku ingin dimengerti kesalahan itu wajar istri lakukan.
Harusnya aku bilang, " abi membentak ku, untuk urusan sepele, baiklah maafin aku, dan aku memaafkan abi"
Harus ada saling ridho dari pasangan, atas setiao keburukan pasangan muncul, astagfirullah..
Aku tau sekarang, ketika pasangan mu marah, kadang rasa marah itu saja sudah merenggut semangat mu, tak ingin menjawab, tak ingin membela diri
Padahal ketika aku marah, aku butuh jawaban, aku butuh alasan..
Bahagia itu apa sih,
Rasa-rasanya dulu aku tidak pernah menggantungkan kebahagian ku kepada orangtua ku, apalagi setelah ibu dan bapak bercerai.
Lalu kenapa setelah 5 tahun pernikahan ini, aku menggantungkan kebahagian ku pada suami ku.
Yang notabene suami ku hanya sedikit memahami ku.. bukan.. sebenarnya aku saja yang terlalu banyak minta. Ingin ke Parangtritis, ingin tambahan uang, ingin dimengerti, ingin di manja.
Sedangkan suami ku, sibuk dengan banyak nya amanah di pekerjaan.
Aku juga tidak memahami posisi suami ku sama sekali. Kalau di tulis mana pengabdian ku yang memuaskan suami..
Anak berantem terus, kamar belatak, rumah apalagi, masakan gak enak, jutek, tidak lemah lembut, kasar, nusyuz , anak gak keurus,aah kadang aku juga berfikir pada. Akhirnya klaau begini terus mungkin suami ku juga tidak merasa bahagia dengan ku.
Rabb bahagia seorang istri itu apa sih, ko aku lebih banyak merasa kesepian dan bosan, di bandingkan rasa bahagia..
Rabb ajarkan aku cara bahagia yang hakiki
Rabb.. boleh kah aku sedikit merajuk?
Kenapa Rabb? Kenapa apa yang ibu ku usahakan tak kunjung ada hasil?
Bukankah ia sudah lelah telah membesarkan aku dan adik2 ku?
Lalu kenapa tak kau limpahkan sedikit karunia mu yang kau berikan kepada orang banyak itu??
Rabb, bukankah dari dulu ia merawat kami, membesarkan kami, menyekolahkan kami, lalu kenapa tak kau jadikan kami manusia manusia dengan keberlimpahan harta, hingga bisa ku katakan padanya, beristirahatlah, atau nikmatilah, atau jalan jalanlah keliling dunia.
Rabb, bukankah ia mengusahakannsesuatu yang telah ia jalani lebih dari seperempat abad??
Lalu kenapa hanya rugi saja yang ku dengar? Untung sekali rugi berkali kali. Kenapa Rabb..
Rabb bukankah engkau maha pengampun, meski ia dulu mengambil riba yang kau perangi, tapi bukankah engkau maha Rahmah dan maha pengampun, menyayangi setiap makhluk meski melakukan kesalahan berkali kali??
Lalu kenapa?? Kehangatan dan keberlimpahan rezeki mu tak kunjung datang kepadanya???