Tampilkan postingan dengan label Dina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dina. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2011

Kondisi Psikologis Ibu dengan Mioma Uteri


BAB I
PENDAHULUAN
KASUS MIOMA UTERI PADA Ny. N
1.1  Identitas Klien
Nama                                            : Ny. N
Usia                                              : 40 tahun
Usia saat terkena penyakit           : 39 tahun
Alamat                                         : Cibadak - Sukabumi
Pendidikan                                   : S – 1 Matematika
Suku / Bangsa                              : Sunda / Indonesia

1.2  Latar Belakang
Ny. N Usia 40 tahun, ia seorang guru matematika yang mengajar di salah satu SMP Negeri. Beliau tinggal berdua dengan anak laki – lakinya yang berumur 10 tahun. Ny. N sudah bercerai dengan suaminya saat Ny.N usia 35 tahun. Untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya, termasuk memenuhi kebutuhan anaknya, Ny. N hanya dapat mengandalkan uang hasil dari pendapatannya mengajar.
Pada tahun 2010 Ny. N mengalami konstipasi dan nyeri pada bagian bawah perut. Kemudian karena khawatir akan kondisinya, Ny.N memeriksakan diri ke rumah sakit, dan ternyata setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mendiagnosa Ny.N terkena Mioma Uteri. Serontak Ny.N Kaget akan kabar tersebut. Ny. N merasa takut, khawatir dan cemas, ditambah lagi, Ny. N memiliki peran, yang selain berperan sebagai seorang ibu juga dia berperan sebagai pencari nafkah bagi anaknya.
Keluarga terutama anaknya pun merasa kaget, khawatir dan cemas setelah mengetahui kabar akan kondisi Ny. N tersebut. Tetapi, keluarga dan anaknya mencoba untuk memberikan dukungan moral dan moril sehingga Ny. N berusaha untuk tetap tegar menghadapi penyakitnya.
Ny. N tidak tinggal diam setelah di vonis bahwa dirinya terkena penyakit Mioma Uteri tersebut. Ny. N mulai mencari informasi mengenai Mioma Uteri dari berbagai sumber, seperti buku kesehatan, internet dan konsultasi kepada dokter. Setelah mendapatkan informasi bahwa mioma uteri setelah menopause kemungkinan akan mengering dengan sendirinya, akhirnya dia merasa lebih berlapang dada dan bertawakal kepada Allah SWT.




BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 MIOMA UTERI
1.     Pengertian
Mioma Uteri (bahasa Inggris: Uterine Myoma ) adalah tumor jinak pada dinding rahim. Mioma suka di sebut juga sebagai mioma, myom, tumor otot rahim atau tumor fibroid, karena berasal dari sel jaringan fibro.  Jumlah penderita belum diketahui secara akurat karena banyak yang tidak merasakan keluhan sehingga tidak segera memeriksakannya ke dokter, namun diperkirakan sekitar 20–30% terjadi pada wanita berusia di atas 35 tahun.  Mioma uteri dapat muncul lebih dari satu buah dan memiliki berat yang bervariasi mulai dari beberapa gram saja hingga mencapai 5 kg.

2.     Jenis – Jenis
Berdasarkan lokasinya mioma uteri dibagi dalam tujuh jenis :
a)      Mioma submukosum: di bawah endometrium dan menonjol kedalam rongga uterus.
b)      Mioma intramural: di dinding uterus di antara serabut miometrium.
c)      Mioma subserosum: tumbuh keluar dinding uterus  dan menonjol pd permukaan luar uterus, diliputi serosa.
d)     Mioma geburt: myoma submukosum bertangkai dan dilahirkan melalui serviks.
e)      Mioma intraligamenter: mioma subserosum yg tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum latum.
f)       Bila myoma dibelah: gambaran spt konde/pusaran air (whorl like pattern).
g)      Pseudocapsule: jaringan ikat longgar yg terdesak pertumbuhan sarang mioma. Dalam satu uterus rata2 ditemukan 5-20 sarang.
3.     Penyebab

Penyakit Mioma Uteri berasal dari Otot Polos Rahim. Beberapa teori menyebutkan pertumbuhan tumor ini disebabkan rangsangan hormon Estrogen. Pada jaringan mioma jumlah reseptor Estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya. Sehingga mioma uteri ini sering kali tumbuh lebih cepat pada kehamilan (membesar pada usia reproduksi) dan biasanya berkurang ukurannya sesudah menopause (mengecil pada pasca menopause), sering kali mioma uteri membesar ke arah rongga rahim dan tumbuh keluar dari mulut rahim.  Ini yang sering disebut sebagai Myoma Geburt (Geburt berasal dari bahasa German yang berarti lahir).  Tumor yang ada dalam rahim dapat tumbuh lebih dari satu, pada perabaan memiliki konsistensi kenyal, berbentuk bulat dan permukaan berbenjol-benjol seperti layaknya tumor perut. Beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram saja, namun bisa juga mencapai 5 kilogram atau lebih.

4.     Gejala  dan Ciri – Ciri dari Mioma Uteri
Gejala dan ciri–ciri mioma uteri tergantung besar dan kecilnya tumor serta arah pertumbuhannya.  Gejala mioma uteri juga sangat dipengaruhi oleh siklus haid karena mioma uteri sangat dipengaruhi oleh hormon Estrogen.  Umumnya mioma uteri tidak menimbulkan gejala jika besarnya tumor masih kecil.  Gejala akan muncul jika tumor mioma uteri ini, telah mendesak organ sekitarnya. Umumnya gejala mioma uteri adalah :
a)      Hipermenore ( darah haid yang berlebihan).
b)     Dismenore ( nyeri haid ).
c)      Nyeri pada bagian bawah abdomen ( perut ) akibat penekanan dan terputarnya tangkal mioma uteri.
d)     Perdarahan vagina di luar masa haid dan tidak beraturan.
e)      Anemia.
f)       Gangguan BAB dan BAK jika mioma uteri telah menekan kandung kemih , ureter ( saluran kencing ) , rektum ( usus besar ) dan organ rongga panggul lainnya.
g)      Kesulitan memiliki anak karena mioma uteri menyumbat saluran tuba dan kesulitan terjadi implantasi karena adanya mioma uteri pada dinding rahim.
h)     Adanya gangguan letak bayi dan plasenta , terhalangnya jalan lahir , kelemahan kontraksi rahim , perdarahan disertai nyeri dan resiko keguguran pada masa kehamilan.
i)        Perdarahan yang banyak dan gangguan pelepasan plasenta pasca melahirkan.

5.     Komplikasi
Komplikasi mioma uteri ini, biasanya lebih bahaya di alami pada wanita hamil yang memiliki mioma uteri.  Yang bisa menyebabkan :
a.       Abortus.
b.      Dapat Menghalangi Lahirnya Bayi.
c.       Dapat Mempersulit Lepasnya Plasenta.
d.      Pendarahan Pervagina.
e.       Mengurangi Kemungkinan menjadi Hamil kembal.
6.     Etiologi
1)      Etiologi sebenar yang menyebabkan tumor ini tidak dapat diketahui.
2)      Sitogenetika
Beberapa kelainan yang melibatkan kromosom 6, 7, 12, dan 14 telah dikenalpasti berkaitan dengan pertumbuhan tumor.  Kelainan ini berantisipasi dan menyebabkan perubahan kariotipik yang merupakan hal yang penting dalam pertumbuhan myoma.
3)      Estrogen
Myoma merupakan tumor yang sensitive terhadap estrogen dan progesterone. Oleh karena itu, myoma berkembang pada tahun reproduktif dan berkurang dalam ukuran dan insiden selepas setelah menopause. Konsep ini berintigrasi dalam memahami kebanyakan factor resiko yang berhubungan dengan pertumbuhan myoma dan memformulasikan kaedah terapi.  Sebagai contohnya; hormone seks steroid dapat menstimulasi dan menghambat traskripsi dan produksi faktor pertumbuhan selular. Myoma sendiri menyediakan kondisi hiperestrogenik yang  membantu pertumbuhannya. Myoma mempunyai densitas reseptor estrogen yang lebih tinggi daripada miometrium yang normal.

Tumor ini juga mengubah lebih sedikit estradiol kepada estrone  yang lebih lemah. Tahap sitokrom P450 aromatase pada myoma lebih tinggi
daripada myocytes normal dan sitokrom spesifik ini
mengkatalisasi perubahan androgen ke estrogen pada beberapa jaringan. Pertambahan tahun pajanan terhadap estrogen pada menarche awal dan peningkatan BMI juga meningkatkan resiko myoma. Wanita obesitas menghasilkan estrogen yang lebih banyak apabila pertambahan perubahan adipos kepada androgen kepada estrogen dan pengurangan produksi sex-hormone binding globulin pada hepar. Kehamilan dapat mengurangkan resiko myoma karena pada  kehamilan hormone progesterone lebih dominan.  Terapi hormone tidak member sebarang pengaruh pada tumbuhnya myoma.  Merokok mengubah metabolisme estrogen dan mengurangi jumlah serum estrogen yang aktif.  Hal ini menerangkan kenapa wanita yang merokok mempunyai resiko yang rendah terhadap myoma.

4)      Progesteron
Perannya terhadap pertumbuhan myoma kurang jelas karena progesterone dapat menstimulasi dan menginhibisi myoma.  Progestin eksogen terbukti mengehadkan pertumbuhan myoma  pada ujian klinis. Pada studi epidemiologis, penggunaan medroxyprogesterone  mengurangkan insiden myoma.  Antiprogestin dan mifepriston menginduksi atrofi pada myoma.  Pada wanita yang diterapi dengan GnRH agonis, myoma akan mengecil, namun dengan pemberian progesterone bersama-sama agonis pertumbuhan myoma akan meningkat.

2.2 STIMULUS PSIKOLOGI
1.     Masalah
Masalah adalah Suatu Keadaan yang tidak Seimbang antara Harapan dan Kenyataan.
2.     Cemas
Ada 4 tingkatan Cemas :
1.      Rasa Cemas Ringan
Berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi sehari-hari.  Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu, yang mengakibatkan orang akan berhati–hati/ waspada dan mendorong manusia untuk belajar serta kreatif.
2.      Rasa Cemas Sedang
Keadaan persepsi terhadap lingkungan menurun.  Individu lebih memfokuskan hal yang penting saat itu saja dan mengesampingkan hal lainnya.


3.      Rasa Cemas Berat
Lapangan persepsi sangat menurun.  Orang hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lainnya.  Individu tak mampu berpikir lagi, dia harus diberi pertolongan/ tuntunan.
4.      Panik
Lapangan persepsi sudah sangat sempit.  Individu tidak dapat mengendalikan diri lagi.  Bila manusia salah orientasi ketika menghadapi masalah pelik, rasa dan berfikir rasio tidak berfungsi, disebut orang yang panik.
3.     Stress
Stress adalah suatu ketidakseimbangan diri / jiwa dan realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari atau perubahan yang memerlukan penyesuaian.
Ø  Perubahan negatif yang dapat menimbulkan stress seperti cedera, sakit atau kematian orang yang dicintai, atau putus cinta.
Ø  Perubahan positif juga dapat menimbulkan stress seperti naik pangkat, perkawinan, jatuh cinta.
Jenis - jenis Stress :
1.      Frustasi
Suatu keadaan ketika individu mengalami hambatan dalam mencapai suatu tujuan atau saat tidak menemukan tujuan yang tepat.  Kondisi ini menimbulkan self – devaluation, individu merasa gagal atau tidak berkompeten.
2.      Ancaman
Muncul sebagai antisipasi dari individu terhadap hal-hal yang merugikan atau tidak menyenangkan bagi individu mengenai sesuatu situasi, hal ini merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan stress.
3.      Konflik
Suatu keadaan ketika individu dihadapkan pada dua atau lebih kebutuhan atau motif, yang pemenuhannya tidak dapat dilakukan sekaligus.  Konflik dirasakan saat memilih atau melaksanakannya. Kondisi yang tercipta dapat berupa mendekati (approach) atau menghindari (avoidance).
4.      Pressure
Suatu keadaan ketika individu merasakan tekanan dalam mencapai suatu tujuan tertentu.  Pressure memaksa individu untuk bergegas, meningkatkan upaya atau merubah arah tingkah lakunya.  Pressure yang besar akan menguras sumber daya yang dimiliki individu dengan melakukan coping terhadapnya dan jika berlebihan, memungkinkan munculnya tingkah laku maladaktif.

2.3 Bentuk Reaksi Emosi
1.      Shame (malu), reaksi emosi dengan ciri khas adanya bersalah, hal yang memalukan dan penghindaran.
2.      Guilty (bersalah), perasaan emosi yang diasosiasikan pada kenyataan bahwa individu telah melanggar aturan sosial, moral/etika.
3.      Grief (berduka),  keadaan emosi yang tidak menyenangkan  disertai rasa menderita /rasa kehilangan yang mendalam dan disertai tangisan sedu-sedan.
4.      Fear (takut ), merupakan suatu reaksi emosional yang kuat mencakup perasaan subjektif penuh ketidaksenangan, agitasi dan keinginan untuk melarikan diri atau bersembunyi disertai kegiatan penuh perhatian/kewaspadaan.

2.4 COPING STRATEGI
Coping strategi adalah cara cara individu menyelesaikan dan menyesuaiakan diri pada stress. Lazarus membagi penanggulangan stress menjadi 2, penananggulangan yang berpusat pada masalah  (Problem focus of coping) dan penanggulangan yang berpusat pada emosi (Emotion focused form of coping).
Problem Focus of Coping
Penanggulangan yang diarahkan pada usaha untuk mengatur atau mengganti masalah yang menimbulkan sters dengan mengubah relasi yang menyulitkan dengan lingkungan. Pada umumnya penanggulangan ini muncul dalam kondisi yang dinilai dapat diubah. Bentuk coping berpusat pada masalah ada empat :
1.      Confrotative Coping
   Menggambarkan usaha agresif untuk mengubah keadaan, juga menggambarkan    
   tingkat kemarahan serta pengambilan resiko.
2.      Seeking Social
Menggambarkan usaha dalam rangka mencari dukungan informasi mencari dukungan nyata dan dukungan emosional.
3.      Accepting Responsiblity
 Menggambarkan adanya kesadaran akan peran dirinya dalam permasalahan yang  
 dihadapi bersama dengan hal itu mencoba untuk membuat segala sesuatunya  
 menjadi lebih baik.
4.      Planful Problem Solving
 Menggambarkan usaha mengubah keadaan secara hati-hati disamping itu  
 menggunakan pendekatan analisis untuk memecahkan masalah.

a.       Bentuk Penanggulangan yang berpusat pada emosi (Emotion focused form of coping)
Bentuk penanggulangan yang difokuskan pada emosi yang bertujuan untuk mengadakan toleransi terhadap gangguan lingkungan yang dianggap menyulitkan individu.  Diarahkan pada usaha atau memperhalus atau mereduksi stress dan usaha meningkatkan kenyamanan.
1.      Distancing
Menggambarkan usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, disaat lain memperhatikan pandangan positif.
2.      Self controlling
Menggambarkan usaha untuk menyesuaikan perasaan dengan tindakan.
3.      Escape–Avoidance
Menggambarkan adanya pengharapan dan usaha-usaha untuk menghindar atau melarikan diri dari permasalahan.
4.      Positif Reappraisal
 Menggambarkan usaha untuk menciptakan makna yang positif yang lebih ditujukan pada pengembangn pribadi dan juga melibatkan diri dari permasalahan.

2.5 ADAPTASI PSIKOLOGIS WANITA PREMENOPOSE DAN MENOPOSE
A.    Periode Pre Klimakterium
Periode pre klimkaterium merupakan periode sebelum menpause adalah masa sebelum berlangsungnya saat menopause, yaiu fungsi reproduksinya mulai menurun, sampai timbulnya keluhan atau tanda-tanda menopause.
Pada pre klimakterium ini mirip dengan pra pubertas, dimana pada pubertas kedua muncul tingkah laku yang lucu-lucu, aneh-aneh, janggal dan tidak pada tempatnya.  Mislanya: wanita usia lebih dari 50 tahun pada siang hari menggunakan rok panjang merah, dengan perhiasan emas warna-warni, make up berlebihan dan jalan-jalan di mall. Tingkah laku wanita tersebut bermaksud utuk:
a.       Mengingkari ketuannya, dan ingin mengulangi kembali pola kebiasaan dimasa muda.
b.      Mendandani dirinya dengan pakaian dan perhiasaan warna warni serta macam-macam bahan kosmetik, agar kelihatan masih remaja.
Selain itu pada masa ini juga terjdi peningkatkan rangsangan seksual yang menimbulkan nafsu yang besar untuk berhubungan seksual dan kegairahan yang menyala-nyala.
Struktur kepribadian yang terintegrasi dengan baik akan memapu mengkompensasi gangguan fisiologis dan psikis dalam bentuk perbuatan-perbuatan ynag intelek yaitu mampu mengendalikan diri dan mampu mengatasi gangguan psikosomatis dengan menyalurkan pada perbuatan yang inteligen, produktif dan kreatif.
B.     Periode Klimakterium (Menopause)
Meski kata menopause hanya mengandung arti akhir masa menstruasi, walaupun demikian dalam penggunaan secara umum menopause mempunyai makna masa transisi atau masa peralihan, dari beberapa tahun sebelum menstruasi terakhir sampai setahun sesudahnya.  Hal itu disebabkan karena keluaran hormon dari ovarium (indung telur) berkurang, masa haid menjadi tidak teratur dan kemudian lenyap sama sekali.  Dengan lenyapnya haid ini maka wanita sudah memasuki suatu masa peralihan yaitu masa menopause.
Menopause merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi.  Secara normal wanita akan mengalami menopause antara usia 40 tahun sampai 50 tahun.  Pada saat menopause, wanita akan mengalami perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang disebabkan oleh bertambahnya usia.  Usia dari hari ke hari akan terus berjalan dan setiap orang seiring dengan bertambahnya usia tidak akan lepas dari predikat tua. Dengan bertambahnya usia maka gerak-gerik, tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk tubuh mengalami suatu perubahan.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju perubahan secara perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen dan progesteron seiring dengan bertambahnya usia.  Sehubungan dengan terjadinya menopause pada lansia maka biasanya hal itu diikuti dengan berbagai gejolak atau perubahan yang meliputi aspek fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan si lansia tersebut.
Fisik
Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas.  Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pening, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar (Hurlock, 1992). Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a. Ketidakteraturan Siklus Haid
Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya.  Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal.  Keadaan ini sering mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut yang dipakainya.  Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih.
b. Gejolak Rasa Panas
Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti.  Sheldon H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979) mengatakan "kira-kira 60% wanita mengalami arus panas".  Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik disekitar jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan timbul secara menyeluruh. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain.  Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak.  Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi.
c. Kekeringan Vagina
Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali mensekresikan lendir.  Penyebabnya adalah kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih tipis, lebih kering dan kurang elastis.  Alat kelamin mulai mengerut, Liang senggama kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing.  Keadaan ini membuat hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering kali menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi buang air kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau orgasme.
d. Perubahan Kulit
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992).
e. Keringat di Malam Hari
Berkeringat malam hari, bangun bersimbah peluh.  Sehingga perlu mengganti pakaian dimalam hari.  Berkeringat malam hari tidak saja menggangu tidur melainkan juga teman atau pasangan tidur.  Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak.


f. Sulit Tidur
Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah dan perubahan yang lain.
g. Perubahan Pada Mulut
Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita berubah menjadi kurang peka, sementara yang lain mengalami gangguan gusi dan gigi menjadi lebih mudah tanggal.
h. Kerapuhan Tulang
Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan tulang).  Osteoporosis merupakan penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan persoalan bagi yang telah berumur, paling banyak menyerang wanita yang telah menopause.  Biasanya kita kehilangan 1% tulang dalam setahun akibat proses penuaan (mungkin ini yang menyebabkan nyeri persendian), tetapi kadang setelah menopause kita kehilangan 2% setahunnya.  John Hutton (1984:35) memperkirakan sekitar 25% wanita kehilangan tulang lebih cepat daripada proses menua.  Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan.  Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh.
i. Badan Menjadi Gemuk
Banyak wanita yang menjadi gemuk selama menopause.  Rasa letih yang biasanya dialami pada masa menopause, diperburuk dengan perilaku makan yang sembarangan.  Banyak wanita yang bertambah berat badannya pada masa menopause, hal ini disebabkan oleh faktor makanan ditambah lagi karena kurang berolahraga.


j. Penyakit
Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh wanita menopause.  Dari sudut pandang medik ada 2 (dua) perubahan paling penting yang terjadi pada waktu menopause yaitu meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh darah serta hilangnya mineral dan protein di dalam tulang (osteoporosis).  Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat menimbulkan gangguan seperti stroke atau serangan jantung.  Selain itu penyakit kanker juga lebih sering terjadi pada orang yang berusia lanjut.  Semakin lama kehidupan maka semakin besar kemungkinan penyakit itu menyerang.  Misalnya kanker payudara, kanker rahim dan kanker ovarium.  Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita yang telah melampaui masa menopause.
Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker yang terjadi di rahim, ada dua bagian rahim yang dapat menjadi tempat bermulanya kanker.  Yang pertama adalah serviks, kanker ini terutama berjangkit pada wanita berusia diatas 30 tahun.  Gejala yang harus diperhatikan adalah pendarahan vagina setelah persetubuhan, pergetahan vagina yang tidak biasa dan noda diantara haid.  Sementara kanker indometrium (kanker tubuh rahim) terutama menjangkiti wanita diatas usia 45 tahun, yang paling menanggung resiko adalah yang pernah mendapat haid agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi antara tekanan darah tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih.  Gejalanya adalah pendarahan tak normal, pendarahan antara haid, keluaran darah yang lebih lama atau lebih kental dibandingkan biasanya, dan pendarahan haid terakhir dalam menopause.
Psikologis
Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pension, hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan sang lansia tersebut.  Berbicara tentang aspek psikologis lansia dalam pendekatan eklektik holistik, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan lansia.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas dan depresi.  Ada juga lansia yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang.  Beberapa keluhan psikologis yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a. Ingatan Menurun
Gelaja ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat.
b. Kecemasan
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa menjadi pencemas.  Kecemasan yang timbul sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Misalnya kalau dulu biasa pergi sendirian ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa cemas dan khawatir, hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari ana-anaknya.  Kecemasan pada Ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang yang cemas dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan semangat/dukungan dari ornag di sekitarnya, namun ada juga yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang disekitarnya telah memberi dukungan.  Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti dalam kehidupannya.  Menopause rupanya mirip atau sama juga dengan masa pubertas yang dialami seorang remaja sebagai awal berfungsinya alat-alat reproduksi, dimana ada remaja yang cemas, ada yang khawatir namun ada juga yang biasa-biasa sehingga tidak menimbulkan gejolak.
Adapun simtom-simtom psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn and Davidson (1990 :9) adalah sebagai berikut :
·     Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis, seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang.
·     Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti: khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya.
·         Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti: menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan.
·         Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti: gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
·         Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti: berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.
Gangguan kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme pertahanann diri yang dipilih secara alamiah oleh makhluk hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan berbahaya.  Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan mempertahankan diri untuk menghindari atau mengurangi bahaya atau ancaman.
Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari.  Bagaimana juga, bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah klinis.
c. Mudah Tersinggung
Gejala ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan.  Wanita lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak menggangu.  Ini mungkin disebabkan dengan datangnya menopause maka wanita menjadi sangat menyadari proses mana yang sedang berlangsung dalam dirinya. Perasaannya menjadi sangat sensitif terhadap sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama jika sikap dan perilaku tersebut dipersepsikan sebagai menyinggung proses penerimaan yang sedang terjadi dalam dirinya.


d. Stress
Tidak ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was dan cemas, termasuk para lansia menopause.  Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit, artinya kalau dibiarkan dapat menggerogoti tubuh secara diam-diam.
Namun demikian stress tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi bisa juga memberikan dampak positif.  Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif, tergantung pada bagaimana individu memandang dan mengendalikannya.  Stress adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan seseorang oleh karena itu, stress sangat individual sifatnya.
Respon orang terhadap sumber stress sangat beragam, suatu rentang waktu bisa tiba-tiba jadi pencetus stress yang temporer.  Stress dapat juga bersifat kronis misalnya konflik keluarga.  Reaksi kita terhadap pencetus stress dapat digolongkan dalam dua kategori psikologis dan fisiologis.
Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress tidak bisa diramalkan, sebagaimana perbedaan suasana hati dan emosi kita dapat menimbulkan beragam reaksi, mulai dari hanya ekspresi marah sampai akhirnya ke hal-hal lain yang lebih sulit untuk dikendalikan.  Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress ini tergantung pada beberapa faktor, termasuk keadaan emosi pada saat itu dan sikap orang itu dalam menanggapi stress tersebut.
e. Depresi
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan 9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12% pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d 9,3% wanita dan 2,3% s/d 3,2% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada pria.
Wanita yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, sedih karena kehilangan daya tarik.  Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya.
Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit dihindarkan.
Simton-simton psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Marie Blakburn dan Kate Davidson (1990:5) adalah sebagai berikut :
·         Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan, mudah marah.
·         Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu, harga diri rendah.
·         Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang lain.
·         Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering mondar-mandir, menangis, mengeluh.
·         Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat sesksual, tidur terganggu, gelisah.
Mungkin masih ada gejala-gejala fisik maupun psikologis lain yang menyertai menopause.  Gejala-gejala tersebut diatas sangat perlu dipahami supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memperlakukan para lansia.  Dengan memahami gejala tersebut diharapkan lansia dapat mengerti apa yang sedang terjadi dalam diri mereka.  Selain itu pihak keluarga pun diharapkan dapat merespon secara tepat sehingga tidak membuat lansia merasa dikucilkan atau disia-siakan.  Mari kita bantu para lansia kita dengan memahami berbagai gejala fisik maupun psikologis sehingga tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka.


BAB III
ANALISA MASALAH
Ibu  Usia 40 tahun, yang beralamat di Sukabumi, ia seorang guru matematika yang mengajar di salah satu SMP Negeri.  Beliau tinggal berdua dengan anak laki – lakinya yang berumur 10 tahun. Ibu sudah bercerai dengan suaminya saat ibu usia 35 tahun. Untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya, termasuk memenuhi kebutuhan anaknya,  Ibu hanya dapat mengandalkan uang hasil dari pendapatannya mengajar.
Pada tahun 2010 ibu mengalami konstipasi dan nyeri pada bagian bawah perut. Kemudian karena khawatir akan kondisinya, ibu memeriksakan diri ke rumah sakit, dan ternyata setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mendiagnosa ibu terkena mioma uteri dan disarankan untuk operasi.  Saat itu,  ibu kaget akan kabar tersebut dan ibu merasa takut untuk operasi serta resiko setelah operasi
Keluarga terutama anaknya pun merasa kaget, khawatir dan cemas setelah mengetahui kabar akan kondisi ibu tersebut.  Tetapi, keluarga dan anaknya mencoba untuk memberikan dukungan moral dan moril sehingga ibu berusaha untuk tetap tegar menghadapi penyakitnya.
Ibu tidak ingin dioperasi sehingga ibu  mulai mencari informasi mengenai mioma uteri dari berbagai sumber, seperti buku kesehatan, internet dan pengobatan alternatif.  Setelah mendapatkan informasi bahwa mioma uteri setelah menopause kemungkinan akan mengering dengan sendirinya dan ibu mengetahui bahwa propolis merupakan obat alternative yang baik untuk mioma uteri.  Akhirnya dia merasa lebih berlapang dada dan bertawakal kepada Allah SWT.
Dari kronologis diatas, adaptasi psikologi yang dilakukan oleh ibu yaitu sebagai berikut:
1.  Stress (Ancaman)
Muncul sebagai antisipasi dari individu terhadap hal-hal yang merugikan atau tidak menyenangkan bagi individu mengenai sesuatu yang dapat memunculkan stres.
Setelah ibu mengetahui terkena mioma uteri hasil dari diagnose dokter agar segera di operasi, hal ini di persepsi ibu hal yang merugikan dan tidak menyenangkan.
2.      Takut (Fear)
Fear (takut), merupakan suatu reaksi emosional yang kuat mencakup perasaan subjektif penuh ketidaksenangan, agitasi dan keinginan untuk melarikan diri atau bersembunyi disertai kegiatan penuh perhatian/kewaspadaan.
       Pada saat dokter menyarankan ibu untuk dioperasi. Ibu merasa  operasi  tidak akan berhasil dan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu ibu mengabaikan saran dokter untuk dilakukan operasi.

3.      Cemas Ringan
Cemas yaitu suatu reaksi emosi terhadap penilaian individu yang subyektif.
Berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi sehari - hari. Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu, yang mengakibatkan orang akan berhati – hati/waspada dan mendorong manusia untuk belajar serta kreatif.
Ibu merasa khawatir karena terkena mioma uteri, ibu mencari data dari berbagi sumber dan memilih pengobatan alternatif untuk menyembuhkan. Dan ibu tetap melakukan aktifitas mengajar  dengan penuh konsentrasi. 


Coping strategi
Coping strategi yang dilakukan oleh ibu untuk menghadapi masalahnya yaitu bentuk coping strategi yang berpusat pada masalah.
a.      Seeking Social
Menggambarkan usaha dalam rangka mencari dukungan informasi mencari dukungan nyata dan dukungan emosional.
            Pada saat ibu mengalami konsipasi dan nyeri dibawah perutnya, ibu memerikasakan diri ke dokter. Dokter memvonis terkena mioma uteri dan hanya memberikan obat pusing. Selain itu, ibu mencari informasi tentang mioma uteri dari  berbagai sumber, seperti buku kesehatan, pengobatan alternatif dan internet. Akhirnya ibu mengetahui bahwa mioma uteri akan hilang dengan sendirinya setelah pre menopause berakhir dan memilih mengkonsumsi Propolis untuk obatnya.Ibu menceritakan kondisi kesehatnnya pada keluarga dan anaknya. Keluarga dan anaknya memberi dukungan doa dan motivasi kepada ibu.
b.  Escape
Menggambarkan usaha mengubah keadaan secara hati-hati disamping itu   menggunakan pendekatan analisis untuk memecahkan masalah.
Setelah dokter menyarankan untuk operasi, ibu mengabaikan.  Ibu lebih memilih untuk mencari mengobatan alternatif.
d.   Accepting Responsibility
Menggambarkan adanya kesadaran akan peran dirinya dalam permasalahan yang dihadapi bersamaan dengan hal itu mencoba untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.
Setelah ibu menyadari terkena mioma tanpa operasi sampai sekarang.  Akhirnya ibu menerimanya dengan lapang dada.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
a.      Kondisi fisik
·         Ibu mengalami mioma jinak dengan gejala konstipasi, sering BAK , agak mules, sakit, dan perih sewaktu haid, dan teraba benjolan di perut bagian bawah.
·         Penyebab  mioma uteri karena adanya peningkatan hormone estrogen.
b.      Kondisi psikologis
·         Ibu mengalami jens stress ancaman, takut dan cemas ringan saat mengetahui ibu terkena mioma uteri
·         Coping strategi yang dilakukan oleh ibu setelah di vonis dokter erkena mioma uteri, dokter menyarankan untuk dilakukan operasi, tetapi ibu mengabaikan saran tersebut, dan mencari informasi dari berbagai sumber dan ibu memilih pengobatan alternative serta berlapang dada walaupun mioma tersebut masih ada sampai sekarang.

2.      Saran

·         Kami menyarankan bagi ibu yang mengalami mioma uteri dengan gejala konstipasi, sering BAK , agak mules, sakit, dan perih sewaktu haid, dan teraba benjolan di perut bagian bawah.  Gejala ini masih ringan, dimana dokter memvonis mioma jinak.  Meskipun miomanya jinak, akan tetapi harus dilakukan oprasi, karena jika tidak di oprasi, akan banyak mengakibatkan gejala yang lebih berbahaya seperti pendarahan yang di akibatkan oleh peningkatan hormone estrogen atau akan menjadi mioma ganas (kanker).  Oleh karena itu jalan terbaik yaitu dengan dilakukannya operasi sedini mungkin.
·         Untuk pencegahan mioma yang lebih ganas, boleh menggunakan pengobatan alternative.


ISI WAWANCARA

Mahasiswa     : “Kapan ibu tahu, bahwa ibu memiliki penyakit mioma uteri ini?”
Ny. N              : “Kira–kira, akhir Juli 2010”.
Mahasiswa     : “Gejala apa yang di rasakan saat itu?”
Ny. N              : “Saya merasa agak sering BAK dan BAB, agak mules, sakit, dan perih sewaktu haid, dan teraba benjolan di perut bagian bawah”.
Mahasiswa     : Apa hasil pemeriksaan dari dokter?
Ny. N              : dokter bilang benjolan yang ada diperut bawah itu jenisnya pada dan  tergolong jinak. Saya diberitahu namanya Miom. Saran dokter waktu itu harus diangkat dan dioperasi.
Mahasiswa     : Apakah Ibu melakukan USG dan  Pemeriksaan laboratorium?
Ny. N              : Iya, pemeriksaan dalam dan USG.
Mahasiswa     : Apakah dokter member obat?
Ny. N              : “Tidak dikasih obat miom, cuma waktu itu dokter memberi obat pusing dan obat tidur, karena saya sempat tidak bisa tidur dan sakit kepala karena kaget saya terkena miom.”
Mahasiswa     : “Bagaimana perasaan ibu, saat ibu, di vonis memiliki penyakit mioma uteri ini?”
Ny. N              : “Perasaannya, kaget dan takut. Tapi, setelah saya mengumpulkan data dan informasi tentang mioma uteri ini, dari berbagai buku kesehatan, ataupun internet, akhirnya, perasaan kaget dan takut itu perlahan hilang. Karena menurut informasi yang saya baca, ternyata sebagian besar kasus mioma uteri ini aman untuk dibawa hidup dan resiko membesarnya hanya di usia produktif saja. Karena setelah menopause, kemungkinan bisa mengering dengan sendirinya. Dengan bertawakal kepada Allah SWT, saya yakin semua akan baik – baik saja”.
Mahasiswa     : “Bagaimana perasaan orang – orang sekitar ibu, ketika mereka mengetahui ibu terkena mioma uteri?”
Ny. N              : “Orang tua dan keluarga tentu ikut kaget dan khawatir ketika mengetahui saya terkena penyakit mioma uteri ini. Apalagi anak saya. meski umurnya baru 10 tahun, ia sudah mengetahui bagaimana bahayanya kanker. Sampai – sampai ia menangis dan memeluk saya. Tapi, setelah saya jelaskan kepada semuanya termasuk anak saya, tentang apa itu mioma uteri dan bagaimana cara mengatasinya, akhirnya mereka juga tenang dan selalu mensuport saya untuk tidak putus asa, dan tentu saja mereka selalu berdoa untuk kesembuhan dan kesehatan saya. ”
Mahasiswa     :  apakah ibu sempat merasa terpuruk atau kehilangan semangat hidup ketika di vonis mioma uteri? Berapa lama?
Ny. N              : sempat kaget dan takut aja. Tapi tidak sampai putus asa, dan itupun tidak lama saya rasakan, hanya satu minggu. Setelah itu saya kembali stabil.
Mahasiswa     : Apakah ibu pernah mencoba pengobatan alternatif?
Ny. N              : Saat ini saya sedang mengkonsumsi produk propolis dan kunyit putih.