Dirumah ibu bercerita, Bapak menelepon, katanya memulai bercerita, minta maaf sama ibu..
"Ooh.. " kata ku kaget. Dalam hati aku sedikit lega.. " emang Bapak ngomongnya gimana?"
"Ndah... ieu Bambang.." kata ibu, detik itu aku merasa hati ku sedikit meleyos, hmpt.. aku merasa kata pembuka itu adalah sebuah ke romantisan, detik itu aku membayangkan andai saja ibu dan Bapak masih seatap serumah, hidup harmonis.
Mungkin saja, kebahagian ku bertambah tambah dan tak ada ke khawatiran.
Lalu ibu melanjutkan cerita..
"Bapak cerita, harusnya ndah teh..begini..begini.. dan begini.. sama ibu teh di stop, iyah..iyah.. ayeuna mah silih hampura we"
"Emang menurut bapak, ibu harusnya gimana?" Kata ku " ibu harus bertahan atau bagaimana"
" bukan.. itu mah udah masa lalu, pokoknya Bapak teh cerita, Bapak pas ngebohong teh, pengen nya ibu gimana gitu, gak jelas da sama ibu ge keburu di stop, masa lalu eta mah"
" ooh kata ku, kunaon ku ibu gak di dengerin we atuh, mungkin gara gara itu Bapak Struk." Kata ku
"Ah.. ibu teh gak mau banyak omong"
"Oh kata ku.."
Pikiran ku, melayang jauh lalu berandai andai, andai saja bapak hanya jadi bapak ku, mungkin semuanya akan berbeda, mungkin aku akan terpukul dan sangat sedih ketika Bapak mengalami Struk, mungkin aku akan syok dan serasa dunia akan hancur.
Tapi apa yang kurasakan saat kudengar kabar itu. Mati rasa, tak kurasakan sedikitpun rasa syok dan sedih. Hanya sedikit rasa empaty untuk menengoknya dan itu pun sekali.
Sebelum mendengar kabar ini, bahkan aku membayangkan apakah aku akan sedih ketika kudengar kabar Bapak ku meninggal?
Ia hanya orang lain bagi ku, dulu saat ku susah, aku saat merindukan sosoknya. Lalu berandai andai, andai aku punya Bapak, mungkin hidup ini tak sesusah ini. Andai Bapak ada disamling ku, mungkin aku bisa bercerita seperti oranglain bercerita tentang Bapaknya.
Hai suami ku, aku merasa dirimu belum mampu, jika terjadi aku takut kehancuran itu datang, anak anak yang fatherless. Aku ingin kamu menjadi abanya anak anak dari rahim ku saja, agar rasa cinta mereka terpenuhi oleh mu, tak berbagi.
Kadang ada rasa titik untuk mengikhlaskan, tapi aku teringat masa kecil ku, jadi ku urung semua itu.
Aku akan selalu berdoa, semoga Allah menakdirkan engaku hanya untuk aku dan anak anak ku..
Rasanya aku tak mau terulang lagi, hala hal yang menyakitkan saat aku kecil.