Kamis, 20 Agustus 2015

Tentang Sebuah Nama

Pernah punya buku diary? ane termasuk orang yang menulis diary semenjak SD lho. Diarynya juga tersimpan rapi di lemari kamar ane. lucu sebenarnya kalau membaca kembali diary-diary zaman dulu. kejadian- kejadian di masa SD, SMP dan SMA tercatat dengan segala emosi dan pola pikir ane saat itu. Ane jadi tau perkembangan ane dari masa ke masa. Bagaimana problem solving yang ane lakukan ketika menghadapi masalah. Bagaimana ane bergaul dengan teman-teman. Dan kisah-kisah sahabat dekat ane yang ane tulis disana juga sangat lucu.

Kemarin kerjaan lagi libur, yang lahiran juga lagi sepi belum ada taksiran partus. Jadilah ane membongkar lemari buku ane sambil membaca kembali diary. ane jadi inget sebuah nama, nama ane sendiri  K Keyrizmi. Nama pena ane ini, ane buat waktu SMA. Saat ane membuat novel bareng sama temen ane, Vera namanya.

Masa putih abu-abu itu masa ane memulai berkarya. Novel itu menceritakan kita kelas IPA 2. dengan karakter-karakter kami masing-masing. Ada Bunda yang sangat bawel kocak dan doyan ketawa. Ada Nur yang kalem, cantik, bijaksana dan pinter, Ada Abda sang ketua kelas yang konyol, jail tapi tetep bertanggung jawab dengan kepemimpinannya, ada Mul soulmatenya Abda yang organisator, penuh mimpi dan dewasa. Ada juga Vera sendiri si kecil yang bijak, selalu jadi problem solving temannya, lebih logis dalam melihat sesuatu dan jago banget sastra. Ada Hilda yang ekspresif, cengeng tapi lucu. Hilda itu termasuk karakter yang unik, bahasa yang digunakan kadang lebay tapi ekpresif, selalu menggunakan gaya bahasa khasnya, dan hilda ini jago banget ngedebat teman-temannya.Salah satu gaya bahasa pelesetannya kalau ane bilang "jangan pelit Hildaa.." dia pasti bisa matahin perkataan ane, " Key..Pelit itu sebagian dari hemat dan hemat  itu pangkal kaya". Yeach.. ane selalu mati kutu kalau lagi ngedebat dia.

Terus juga ada Ade si kecil pemberani, sang petualang dan jago banget bisnis. Ada Yanto sang ustadznya kelas IPA 2 yang selalu jadi garda terdepan dalam mengingatkan teman-temannya, diam, tatapannya selalu jauh ke depan dan sedikit aneh. Ada Septian juga, soulmatenya Yanto, ustadz kelas juga tapi berbeda karakter lebih terbuka, punya gaya tersendiri menyampaikan islam dan dia juga Ketua OSIS waktu itu.

Hampir semua teman sekelas kami ceritakan di novel itu, ada Chao, Dani, Ica kecil, Desi si sipit, Febri dan banyak lagi.  Di novel itu menceritakan  kisah-kisah lucu  dan pertualang-pertualangan kita saat belajar dikelas, di Laboratorium, di Lapang Olahraga atau di Multi media.

 Biar  seru, kami tulis novel ini berbau history Fiction. Peran utamanya kami berdua, Ve dan Key. Key waktu itu digambarin seorang murid SMA yang suka banget fibonaci bergabung dengan Ve yang suka banget sejarah. Di mulai dengan penemuan Vera di perpustakaan, sebuah buku tentang harta karun yang tak pernah ditemukan jejaknya. Harta karun ini peninggalan para kompeni zaman penjajahan dulu. Lalu Key yang suka  teka-teki tertarik dengan buku itu.
dan dimulailah pencarian kode kode dan teka teki. temasuk teka teka alamat sekolah SMA Key dan Ve. Jln Veteran Km 3. disinilah dimulai pencarian harta karun yang menurut Ve dan Key ada di Sekolahnya. Pencarian ini melibatkan kelas IPA 2 dengan semua warna-warni kejadian nyata yang dikaitkan ke harta karun.

Bener deh seru  banget ini kisahnya,  hikmah dalam novel ini tentang mimpi, persahabatan, ilmu pengetahuan dan sejarah. 

Waahh.. kangen mereka semua.

K Keyrizmi ini sebuah nama yang lahir karena mereka, mereka para petualang dan pembelajar sejati. Yang memberi warna dalam sepenggal kisah perjalan hidup ane. Jazakumullah Khairan Katsir  untuk 
anak-anak IPA angkatan 2010. K keyrizmi itu tentang nama ane sendiri tapi mewakili mereka semua. Miss you.

Selasa, 11 Agustus 2015

Pencari Ilmu Pencari Tuhan

Dr. Fahmi Amhar
Hari-hari ini tahun ajaran baru di sekolah-sekolah dimulai. Anak-anak kecil yang baru masuk sekolah masih antusias dengan lingkungan dan teman-teman baru.  Anak-anak yang lebih besar tampak kurang bersemangat.  Liburan yang menyenangkan telah lewat.  Kini rutinitas yang menjemukan telah dimulai lagi.
Menjemukan?  Ya, di negeri ada ribuan sekolah dan jutaan siswa.  Mereka menghabiskan banyak waktu, tenaga dan biaya.  Mereka melakukan banyak hal, kecuali belajar.  Mereka mendapatkan banyak hal, kecuali ilmu!
Ironis.  Tapi itulah kenyataannya.  Salah satu penyebab murid tak bersemangat adalah guru yang tak termotivasi.  Dan salah satu penyebab guru tak termotivasi adalah pemerintah yang tidak memiliki visi.  Bagi pemerintah, pendidikan adalah urusan kesejahteraan rakyat yang menghabiskan uang, bukan urusan perekonomian yang mendatangkan uang.  Pendidikan tidak pernah dipandang sebagai suatu investasi.  Kalaupun ada pendidikan yang dianggap investasi, itu hanyalah program studi tertentu saja yang nanti alumninya akan menjadi profesional yang dapat menangguk penghasilan tinggi.  Jadi kalau swasta dilibatkan, mereka hanya tertarik membuka sekolah yang prospektif secara bisnis.  Maka sekolah swasta juga hanya tertarik menjaring siswa yang kaya atau yang cerdas.  Mereka yang kaya meski kurang cerdas, atau miskin namun cerdas, akan mendapatkan solusi pendidikannya.  Yang kaya bisa membayar.  Yang miskin namun cerdas bisa mendapatkan beasiswa atau pinjaman.  Pemberi beasiswa atau pinjaman yakin itu investasi.
Namun siapa yang akan memikirkan mereka yang kurang cerdas dan juga miskin?  Karena miskin mereka kurang gizi, akibatnya kurang tenaga untuk belajar, jadinya kurang cerdas, sehingga tidak punya banyak pilihan dalam mencari nafkah, sehingga penghasilannya rendah, miskin.  Harus ada yang memutus lingkaran setan ini!
Negaralah yang harus memutusnya.  Negara dengan pemimpin pemerintahan yang memiliki visi.  Inilah yang terjadi dengan Daulah Islam sejak berdirinya.
“Setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, hukumnya fardhu mencari ilmu” kata Rasulullah.  Mencari ilmu dimasukkan dalam ibadah.  “Kejarlah ilmu sampai ke liang lahat” – jadi mencari ilmu tidak berakhir dengan tercapainya gelar S3.  Rasulullah juga menekankan, “Barang siapa mencari ilmu, dia sedang mencari Tuhan”, “Mempelajari ilmu bernilai seperti puasa, mengajarkan ilmu bernilai seperti shalat, barangsiapa mati dalam perjalanan mencari ilmu, dia seperti mati syahid dalam jihad fi sabilillah”.  Pencarian ilmu akan memperdalam pengenalan seorang muslim pada Rabbnya.  Semua ilmu berasal dari Allah dan ditujukan kepada Allah.  “Kejarlah ilmu, dari sumber manapun!”, “Terimalah ilmu, sekalipun dari lisan seorang musyrik”.
Motivasi inilah yang menyebabkan bangsa Arab tiba-tiba menjadi “ilmu-mania” nomor satu di dunia.
Ketika Barat terjebak dalam kurungan kegelapan, dan menganggap kebenaran hanya ada di kitab suci, sedang pendapat para ilmuwan yang ada saat itu sebagai sumber kesesatan, kaum muslimin justru melihat bahwa Al-Quran adalah pedoman hidup, sedang ilmu-ilmu kehidupan seperti sains dan teknologi, adalah sesuatu yang wajib dipelajari dari mana saja, sekalipun sampai ke Cina.
Maka, tak sampai seabad setelah Islam memulai futuhat dan Quran selesai diwahyukan, ilmu pengetahuan mekar seperti lautan bunga musim semi setelah musim dingin.
Dan apa yang terjadi saat suatu futuhat (penaklukan) suatu negeri terjadi?  Bukan penyerahan senjata, kunci pertambangan penting atau harta benda berharga yang menjadi syarat perjanjian perdamaian, namun seperti Khalifah Harun ar-Rasyid ketika menaklukkan Amuria dan Ankara: penyerahan buku-buku manuskrip Yunani kuno!  Buku-buku yang sebenarnya telah ratusan tahun terabaikan dan dilupakan oleh dunia Kristen.
Buku-buku itu tidak kemudian dikonservasi dan disimpan di museum, namun dihidupkan kembali untuk dibawa ke era modern.  Caranya?  Diterjemahkan!
Buku-buku itu tidak diterjemahkan ke bahasa yang hanya dikuasai segelintir kaum elit, seperti halnya bahasa Latin di Eropa; namun diterjemahkan ke bahasa yang pasti akan hidup hingga akhir zaman, yaitu bahasa Qur’an: bahasa Arab!  Setiap muslim wajib mempelajari Qur’an, jadi setiap muslim wajib dapat membaca dan mengerti tulisan Arab.  Maka dengan menerjemahkan semua buku-buku ilmu ke dalam bahasa Arab, itu berarti membuka akses ilmu bagi semua orang.
Kesuksesan pekerjaan penerjemahan tidak sedikitpun di bawah kesuksesan pekerjaan pengumpulan buku.  Harun ar-Rasyid memerintahkan untuk mendatangkan para pakar segala bahasa ke istananya.  Mereka bekerja di bawah koordinasi Yahya bin Masawih menerjemahkan segala buku ilmiah yang bisa diperoleh dari manapun hingga saat itu.  Untuk memperbanyak tim penerjemahan, Khalifah al-Makmun mendirikan Akademi Penerjemahan.
Begitulah, para ulama Islam dengan penerjemahannya telah menjaga karya-karya ilmiah antik dari kehilangan total.  Tanpa pekerjaan mereka, dunia kita sekarang tidak akan mengenal buku anatomi dari Galens; buku mekanika dan matematika dari Heron, Philo dan Menelaos; buku astronomi dari Ptolomeus; buku geometri dari Euklides; buku tentang irisan kerucut dari Appolonius; buku tentang kesetimbangan di air dari Archimedes dan sebagainya.
Buku-buku itu kemudian disalin ribuan kali oleh para waraqin (yang berfungsi seperti mesin foto copy), kemudian dikirim ke perpustakaan-perpustakaan.  Setiap masjid punya perpustakaan.  Setiap rumah sakit memiliki ruang tunggu yang lengkap dengan perpustakaan.  Dan semua orang dapat membaca atau meminjamnya.  Sebuah kota kecil seperti Najaf di Iraq saja abad 10 M memiliki perpustakaan dengan koleksi 40.000 buku!  Perpustakaan itu menjadi bursa ilmu pengetahuan yang paling mudah, tempat orang dapat bertemu dengan para pakar untuk bertransaksi ilmu.  Dan ilmu – seperti kata Imam Ali – adalah sesuatu yang ketika diberikan tidak berkurang, namun justru bertambah!
Belajar menjadi murah, ketika akses ilmu pengetahuan dibuat mudah oleh negara.  Negara memiliki visi yang dibuktikan dengan tindakan. Negara mempromosikan ilmu sehingga rakyat cinta ilmu, sehingga orang-orang kaya berlomba wakaf fasilitas pembelajaran, sehingga para cerdik pandai mencari ilmu dan mengajarkannya dengan semangat mencari Tuhan.
Maka spiral kegelapan pada mereka yang kurang cerdas dan miskin pun terputus.  Tidak ada orang miskin yang terhalang belajar oleh kemiskinannya.  Dan tidak ada orang yang dianggap kurang cerdas dalam mencari Tuhannya.

HUKUM BEKERJA SEBAGAI PNS DI NEGARA DEMOKRASI


(lebih lugas lagi: Hukum bekerja sebagai PNS di negara kafir harbi sekuler, semisal jadi PNS di Inggris, di Amerika atau di Russia, yang negeri itu hari-hari ini masih terlibat dalam upaya memerangi kaum muslimin).
Hukum dasarnya status PNS adalah mubah, selama pekerjaan real yang dikerjakannya adalah mubah. Kalau yang dia kerjakan adalah semisal sopir mengemudi bus karyawan, guru mengajar matematika di sekolah, atau dokter melayani pasien, atau statistisi menghitung jumlah penduduk, atau insinyur meneliti konstruksi jembatan, atau ilmuwan mengembangkan obat-obatan, maka itu pasti mubahnya. Pokoknya kalau pekerjaan itu juga tetap ada dalam daulah khilafah nanti, maka pasti mubah.
Dalilnya adalah: Rasulullah membiarkan beberapa sahabat tetap bekerja pada majikan kafir, semisal Bilal yang bekerja pada Umayyah bin Khalaf, yang merupakan salah seorang pembesar Quraisy.
Apakah itu tidak berarti menolong thoghut?
- tidak. Yang menolong thoghut adalah yang terlibat dalam perbuatan mengharamkan yang wajib atau mewajibkan yang haram, semisal terlibat dalam penghukuman ustadz yang kritis & vokal, atau pemaksaan polwan agar melepas kerudungnya, atau pewajiban petani mengambil kredit ribawi, dsb.
Bukankah ada sumpah untuk setia pada UUD, UU dan pemerintah?
- Selama sumpah itu bersifat global, tidak rinci menunjuk perilaku maksiat apa yang akan dilanggar atau kewajiban syar'i apa yang akan diabaikan, maka sumpah yang kabur itu dapat dikatakan majhul (tidak jelas), dan sumpah yang tidak jelas hakekatnya bukan sumpah. Intinya, seorang PNS memang wajib taat kepada pemerintah yang menjadi majikannya, tetapi ketaatan pada seorang mahluk berhenti ketika itu adalah maksiat kepada al-Khaliq.
- Faktanya: ada banyak orang yang bertugas mendukung tugas-tugas pemerintah, semisal sebagai sopir atau guru, dan para sopir atau guru ini ada yang PNS (yang wajib disumpah) dan non-PNS (yang tidak pernah disumpah). Sekarang, adakah realitas pekerjaan keduanya yang berbeda? Kalau ternyata tidak ada bedanya, maka hakekatnya sumpah tersebut adanya sama dengan tidak adanya, dan mereka yang disumpah itu hanya karena dipaksa oleh sebuah aturan formalitas. Sumpah yang dilakukan karena paksaan, hakekatnya juga tidak ada.

Fahmi Amhar

Sejarah, Esensi dan Kepentingannya

"Sesungguhnya pada kisah kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi mereka yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ( Yusuf: 111)

Ada sejenis kemiskinan yang sangat mengerikan bagi suatu bangsa. Bukan kemiskinan yang seperti dipahami oleh umat manusia saat ini, tetapi kemiskinan yang menjadi pangkal kehinaan di dunia dan diakhirat. Kemiskinan ini akan membuat suatu bangsa terkubur dalam penderitaan dan penguasaan bangsa lain selama-lamanya.

Biasanya, suatu bangsa bisa dikatakan miskin karena sumber daya mereka tidak menghasilkan devisa yanh cukup, atau miskin karena dibodohi bangsa lain. Tetapi Alquran menyebutkan yang lebih dari itu. Ada suatu kemiskinan yang lebih parah pada umat manusia. Itulah kemiskinan  iman kepada Allah dan RasulNya,kemiskinan penghayatan terhadap sejarah Muhamad SWA yang cermelang

Penderitaan umat islam saat ini di dunia, karena umat sendiri sudah menjauh dari islam dan juga umat tidak punya sejarah atau tidak punya kebanggaan masa lalu. Sehingga umat tidak memiliki motivasi untuk bangkit  memperbaiki nasibnya. Akhirnya jiwa budak dan peran pelengkap penderita akan tetap membelenggu umat islam.

Padahal umat islam yang kita cintai ini, memiliki sejarah dan peradaban masa lampau yang sangat agung. Terutama dalam perjalanan sirah nabi yang penuh hikmah dan barakah.

Lalu pertanyaannya kenapa saat ini umat islam bisa lupa dengan sejarah kejayaan para pendahulunya? Pertanyaan ini mungkin akan lebih dapat dimengerti jika kita lihat bahwa saat ini umat tercekoki paham nasionalisme atau paham kebangsaan. Paham nasionalisme membuat umat dihantui oleh split personality, pecah kepribadian. Disatu sisi ia adalah umat islam. Disisi lain umat dicekoki dengan tsaqafah tsaqafah barat. Pelajaran sejarah warisan penjajah memaksa mereka agar bangga dengan sejarah nenek moyang negerinya. Umat islam disekat-sekat oleh nasionalisme dan umat diwajibkan menanggung beban masa lalu bangsanya sendiri. Sedangkan kebanggan historisnya itu sering kali tidak lebih dari sebuah masa lampau yang kelam. Sejarah jahiliah yang sebenarnya tidak patut dibanggakan.

Misalnya umat islam di Indonesia harus memikul beban historis Sriwijaya dan Majapahit yang sama tiraninya. Padahal negeri ini jelas diselamatkan, dibangkitkan dan diperjuangkan oleh islam dan kaum muslimin. umat islam di Mesir harus menanggung kebanggaan sebagai bangsa turunan Firaun. Umat Islam di Irak dengan Nebukad Nezar atau Hamurabbi yang dibangun dengan darah keringat dan tulang nelulang rakyatnya. Sejarah Islam yang gemilangnya dikesampingkan  dan generasi mudanya dicekoki dengan sejarah tirani yang telah tumbang. Para penjajah telah membuat umat islam jauh dari sejarah mereka yang agung sekaligus berhasil menanamkan semangat kebanggaan jahiliyah.

Maka wajar jika saat ini kita menemukan keterpurukan pada umat ini. Karena umat lemah dibidang sejarahnya sendiri. Tidak sekedar lapisan awamnya yang kini bisa dikatalan buta sejarah tapi para pengambil keputusan, ulama, dai dan tokoh nya pun bila pu  seandainya mereka memahami sejarah. Namun pemahaman itu sendiri minus penghayatan.

jika kita lihat, Alquran berisi banyak kisah dan sejarah. Maka pemahaman dan penghayatan sejarah masa lampau adalah sebuah kemestian  bagi pembangunan suatu umat. Kita  renungi kembali kisa Nabi Musa ketika diutus kepada Bani israil yang sangat lemah mentalnya dan rusak kepribadiannya, Allah membekalinya dengan suatu perintah

"Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, ' Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantara mu dan dijadikanNya kamu prang prang yang merdeka dan diberikanNya kepada mu apa yang bel pernah dinerikanNya kepada seorang pun diantara umat-umat yang lain" ( AlMaidah :20)

Pesan yang dibawa Nabi Musa ini jauh berbeda dengan keadaan Bani Israil saat itu. Bani Israil telah melupakan sejarah bangsanya. Merasa diri mereka sebagai  bangsa budak yang selalu terbelenggu dan lupa terhadap keistimewaan mereka yang tidak terdapat pada bangsa bangsa lain. Bahkan kemauan sebagai modal untuk bangkit pun tidak ada sudah sirna. Dengan modal penggalian sejarah inilah Nabi Musa hendak mengangkat harkat derajat bani Israil.

Begitupun dengan kaum muslimin memiliki sejarah gemilang dan keistimewaan keistimewaan yang tidak dimiliki bangsa lain. Apalagi kita merupakan umat pilihan dan umat risalah akhir zaman.

Maka menyadari bahwa nenek moyang kita yaitu Rasulullah saw dan para sahabatnya merupakan umat yang besar adalah kekayaan kita.  Mengkaji dan menghayati setiap langkah gerakan generasi sahabat merupakan aset kebangkitan umat islam. Membuka kembali lembaran lembaran jihad dan perjuangan umat islam yang tiada ternilai harganya.

Alquran sendiri dipenuhi dengan kisah kisah yang penafsirannya dilakukan untuk membangkitkan ruhul jihad para sahabatnya dan juga sebagai dukungan yang memperkuat pribadi RasulNya.

"Dan semua kisah dari rasul rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu. Dan dalam surat ini telah datang kepada mu kebenaran serta pengajaran dan peringatan  bagi orang orang yang beriman " ( Hud: 120)


Maka bagi para pengemban dakwah memahami dan menghayati sejarah sangat penting. Karena dengan menghayatinya Allah akan memberi kita keteguhan hati untuk tetap istiqomah dijalanNya.