Kamis, 17 Oktober 2013

Idul Adha tentang Cinta dan Pengorbanan

Setiap manusia Allah karuniakan sebuah naluri, rasa kasih sayang, cinta atau disebut juga gharizah na'u. rasa cinta ini bisa tertuju pada keluarga kita, ibu, bapak, adik, kakak, istri/suami, anak dan bahkan harta kita.
rasa cinta atau gharizah na'u ini akan membuat kita mempertahankan, melindungi, ingin memiliki bahkan takut kehilangan apa yang kita cintai.
begitupun berabad-abad yang lalu, ketika seorang nabi yang selama hidupnya menantikan seorang anak dalam kehidupannya, nabiyullah Ibrahim A.S yang penantian serta doanya terabadi di Al-quran

Ya Rabb, anugrahkanlah kepadaku [seorang anak] yang termasuk orang shaleh’. Maka Kami beri kabar dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (TQS ash-Shaffat [37]: 100-101)

Setelah Allah kabulkan doa yang panjangnya, Ismail yang dinanti, yang dicintai dan yang disayang sang bayi merah  harus ditinggalkan bersama ibunya di tanah tandus tak bertuan, mekkah.sekali lagi  ujian itu datang, padahal apa yang dicintainya ini adalah yang dinanti selama hidupnya.

Sekian lama di tinggal di tanah tandus, Ismail tumbuh dewasa dan telah menikah, Allah menyuruh Nabi Ibrahim untk menengok ke Mekkah, baru saja di pertemukan, Allah menguji lagi keimanan Nabi Ibrahim, Alalh menyuruh Ibrahim untuk menyembelih anak terkasihnya. betapa beratnya ujian ini.

Dalam kehidupan kita sekarang, tugas kita adalah mencari, mendeteksi, menginsyafi mana saja yang termasuk "Ismail kita", apakah berupa harta, anak, IPK,  keluarga, pekerjaan atau hanya sekedar laptop. Setelah itu mari kita teladani Nabi Ibrahim A.S. Kecintaannya tidak mengahalangi  perintah Allah, sekalipun itu tak mudah. sekalipun bisikan syetan selalu menghampiri, sekalipun getaran getaran keputus asaan itu selalu hadir, tapi dengan keimanan yang kuat ia tetap dapat meraba hal yang paling hakiki.

wallahualam...