Kamis, 18 Desember 2025

Ibu

 

Liburan tahun 2025 ini kami pergi ke yogyakarta. Padahal bukan pertama kali kami berlibur kesini, tapi entah kenapa diperjalan ini,  mengingatkan aku pada masa kecil ku sendiri.

Dimana kemana pun ibu mengajak ku, aku selalu menderita, karena mabuk perjalanan, moddnya yang selalu jelek, tak bahagia. Aku lihat muka muka yang tak ceria di poto kenang kenangan itu, dan yaa... aku seperti anak anak ku hari ini.


Aku jadi mengingat, sesabar itu ibu ku, dan aku jauh dari kata sabar, aku selalu merasa gagal jika perjalanan itu tak seperti yang ku bayangkan..



Kamis, 19 Juni 2025

Manusia

 Aku jenuh, kata ku

Ternyata, hal hal yang aku inginkan dulu, tak selalu indah dijalani. Ingat sekali, ketika ku dulu memohon dengan sangat. Saat aku terpuruk, lelah, menderita karna cinta yang kurasakan tak bisa berlabuh. Hanya rasa suka seorang diri membuncah di dada seperti ingin meledak.


Tentu saja, aku menulis ini bukan karna ingin jatuh cinta lagi pada mereka yang ada di masa lalu, aku hanya rindu rasanya. Rindu saat aku memohon dengan sangat padaNya. Menangis tersedu, karna hati ini merindukan salah satu manusia ciptaanya.


Tetiba, saat aku itu juga aku membaca

"Berapa bodohnya manusia, dia menghancurkan masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan, tapi menangis di masa depab dengan mengingat masa lalunya"Ali bin Abi Thalib


Ah, aku ternyata si manusia bodoh itu


Iya aku si manusia bodoh itu, yang selalu ingin seperti masa lalu, karna hanya aku selalu merasa kesepian. Tapi ternyata setelah kunaca tulisan ku dulu. Sesibuk apapun yang kurasa memang rasa sepi.


Nyatanya jalan kehidupan ku ini tak pernah lepas dipeluk sepi. Bukan, bukan karna aku tinggal sendiri. Jelas aku punya suami dan empat anak, yang rumah ini tak pernah tak bising. Sepi itu ada di hati ku terdalam, tak pernah terpengaruh dengan lingkungan, ia tetap setia memeluk ku.


Lalu setelah aku tahu sepi itu memang selalu ada? Apa yang akan aku minta. 


Aku hanya meminta semoga Aku bisa lebih baik dari kemarin. Semoga aku tak pernah mengeluh, sekoga aku berlapang menerima anak anak ku