Ketika
perpustakaan jadi identitas
Kawan
tahukah kamu dimana letak perpustakaan kota mu? Pernahkah kamu mengunjunginya?
Apakah kamu betah diem disana? Berapa buku yang pernah kamu baca dari
perpustakaan? Berapa orang yang biasa kamu jumpai diperpustakaan?Apa yang
biasanya mereka kerjakan?
Bagi
banyak orang jawaban jawaban pertanyan pertanyaan diatas adalah jelas: geleng
geleng atau angkat bahu. Perpustakaan yang lazim di kenal barangkali Cuma
pepustakaan sekolah atau kampus. Orang kesana karena ada tugas dari dosen dan
harus mencari literature. Selain itu ingin belajar pada suasana nyaman. Sambil sekali kali
membaca Koran hari ini. Jarang orang datang ke perpustakaan, apalagi
perpustakaan non kampus, untuk membaca buku bermutu yang ada didalamnya. Sehingga
Perpustakaan menjadi tempat yang sepi, agak berdebu dan angker. Hanya peniliiti
yang memerlukan yang singgah kesana. Para penjaganya juga kesepian, sehingga
ada perpustakaan yang buka hanya kalau ada permintaan saj.
Beberapa
perpustakan lalu ganti strategi. Mereka menjaring para pembaca dengan
menyediakan lebih banyak bacaan popular, komik, teenlit dan multi media.
Perpustakkan pelan pelan beralih fungsi menjadi tempat penyewaaan komik atau
DVD. Namun bertahan menjadi perpustakaan seperti ini tentu tidak mudah. Dalam
waktu singkat koleksi popular itu pasti akan termakan zaman. Tidak murah untuk
terus mengupdate koleksi itu seusai penerbit terakhir yang jumlahnya makin
banyak. Perpustakaan adalah proyek rugi,
cost center bukan profit center.
Ini
berbeda dengan seribu tahun yang lalu
Tahun
1000M , di bagdad pedagang buku Ibn an Nadim mempublikasikan al –Fihrist (
catalog pengetahuan ). Buku ini terdiri dari 10 jilid dan memuat seluruh judul
buku dalam bahasa arab yang
terbit hingga saat itu, baik dalam ilmu ushuludin, astronomi, matematika,
fisika, kimia dan kedokteran. Buku buku yang masuk dalam catalog itu sudah
terjamin mutunya dan menjadi buruan para pengelola perpustakaan, berikut ahli
salinnya, juga par cerdik cendekia yang
tidak mau dikatakan ilmunya dibawah standar, hanya karena tidak mengenal buku
yang ada dalam catalog itu. buku yang saatitu masih di tulis tangan tentu saja
sanga mahal. Untunglah bagi yang tak mampu membelinya tersedia di perpustakaan.
Maka
tertariklah mahasiswa dari timur dan barat pada perpustakaan perpustakan di
dunia isalam. Perpustakan Cordoba memiliki koleksi setengah juta buku. Di Kairo
ada beberapa ratus pustakawan yang melayani perpustakaan khilafah dengan
koleksi dua juta buku. Ini dua puluh kali lipat perpustakaan mesir kuno di
Alexendria sebelum di hancurkan oleh romawi. Pernahkah anda menghitung berapa
buku yang dapat dimuat dalam rak buku anda ? satu rak buku standart yang banyak
terdapat di rumah rumah dapat memuat rata rata 100 buku. Jadi di perpustakaan
kairo kira kira terdapat 20 000 rak. Kalau satu rak berikut ruang utnuk orang
lewat perlu area 1 meter persegi , maka berarti luas lantai perpustakkan itu
kira kira dua hektar.WOW
Para
pustakawan di msa itu wajib memiliki ilmu yang terkait dengan koleksi yang di
urusnya. Ia bukan hanya seorang yang tahu judul buku, pengarang dan di rak mana letaknya. Namun pustakawan yang
mengurus buku buku fiqih harus pula
seorang faqih, seperti halnya pustakawan yang mengurus karya karya al Biruni
ayau al –Haitsam harus pula seorang astronom atau matematikawan. Para pembaca
dapat berkonsultsi tentang isi buku buku itu pada para pustakawan.
“ANEH”
bahwa diRoma tidak seorang pun yang memiliki pendidikan cukup, bahwa sekedar
utnuk menjaga pintu perpustakaan itu” keluh orang yang mestinya paling tahu,
yaitu Gebert de Aurillac, yang pada tahun 999 M menjadi paus di Roma! Demikian
Sigrid Hunke dalam ALLAHs Sonne ueber dem Abendland.
Pada
tahun terssebut, saat dunia islam, Abulkaasis menyelesaikan ensklopedi bedah.
Al Biruni menunjukan kejeniusan layaknya “ Aristotelesnya dari Arab “ dengan
karaya karya tentang peredaran bumi mengelilingi matahari. Al Haitsam menulis
prinsip prinsip optika serta bereksperimen dengan kamera obscura dan berbagai bentuk lensa cermin.
Pada
tahun tersebut saat dunia sedang menikmati zaman keemasannya, dunia barat
ketakutan akan segera datangnya hari kiamata. Anak lelaki kaisar otto II yang
berusia dua puluh tahun berziarah ke Roma dan berpidato dalam penuh suasa
sacral, “ Sekarang Kristus akan segera dating utnuk mengadili dunia denga api
karena kedurjaan sudah merajalela di Roma”
Pada
saat yang sama dan usia yang sama, Ibnu sina sedang memulai mengisi dunia denga
karya karya intelektual hebatnya.
Dua
dunia yang sangat berbeda. Berawal dari pandangan hidup yang juga amat bebeda.
Masyarakat islam di tuntut sabda Nabinya , yang lain berbunyi, “ barnag siapa
meninggalkankampung halamannya untuk mencari ilmu, dia seperti sedang pergi
jihad fi sabillillah”, “ tinta seorang pembelajar adalah tinda orang mulia daripada
darah seorang syuhada “, dan “ Ilmu itu ternak kaum muslim yang hilang, maka
dimana saja kamu dapatkan, ambillah sekalipun dari lisan kafir’
Sementara
itu masyarakat barat terpaku pada kata kata Paulus, yang berbunyi “ apakah
Tuhan tidak mengatakan bahwa pengetahuan
dunia ini sebagai hal tercela?” Saatu satunya sumber kebenaran untuk kaum
nasrani adalah kitab sucinya, karena itulah meski Romawi mewaris banyak
peradaban tua seperti yunani dan Mesir, mereka lalu membuangnya sejak beralih
agama Nasrani. Perpustakaan
Alexandria yang sangat tua dibakar
habis. Andai kata tidak ada kaum muslim yang rajin memungut kembali ilmu
pengetahuan Yunani, menerjemahkannya dan menguleksinya di perpustakaan
perpustakaan, barangkali kita sekarang ini tak lagi mengetahui tentang hokum
hidrostatika Archimedes atau geometri Euklides
Sementara
itu orang orang kaya seantero dunia
khilafah menjadikan wakaf perpustakan sebagai salah satu cara menunjukan
identitas. Di Bagdad saj ada 200 perpustakakn pribadi yang di wakafkan untuk
umum. Dan tidak main main banyak yang mewakafkan berikut suatu asset produksi untuk membiayai operasional
perpustakkan selamanya. Saying saat serbuan tentara Mongol, nyaris seluruh
perpustakkan itu di hancurkan, sampai air sungai Tigris menjadi hitam warnanya.
Begitulah
..kawan sepenggal sejarah di masa Daulah khilafah, disaat Islam memimpin ,
disaat hukum Allah di tegakkan.
Kaum Muslimin menjadi Gila ilmu pengetahuan,
Kaum Muslimin menjadi Gila ilmu pengetahuan,
Belajar
jadi murah, ketika akses ilmu pengetahuan di buat mudah oleh Negara. Negara memiliki
visi yang dibuktikan dengan tindakan.
Negara mempromosikan ilmu sehingga rakyat cinta ilmu, sehingga para
cerdik pandai mencari ilmu dan
mengajarkannya dengan semangat mencari tuhan.
Sehingga
tidak ada orang miskin yang terhalang belajar oleh kemiskinannya. Dan tidak ada
orang yang di anggap kurang cerdas dalam mencari tuhannya.
Rindukah??
mualilah dari diri kita untuk terus belajar dan belajar.PENCARI ILMU PENCARI TUHAN.
mualilah dari diri kita untuk terus belajar dan belajar.PENCARI ILMU PENCARI TUHAN.
