Kalaupun dia tidak
tahu bahwa kita menyukainya
Kalaupun dia tidak
tahu bahwa kita merindukannya
Kalaupun dia tidak
tahu bahwa kita mengharapkannya
Kalaupun dia tidak
tahu bahwa kita menghabiskan waktu memikirkanya
Maka itu tetap
cinta, tak berkurang se-sentipun perasaannya.
Bagi kita
penggalan puisi dari penulis terkenal itu mungkin akan menyadarkan!
Sadar atas pola
pikir kita yang salah, paradigma kita yang salah, salah memaknai hidup, salah
memaknai cinta. Kit aterlalu dijejali makna makna cinta semu yang menjelma
sebagai egoisme, obsesi diri dan juga pengeksplotasian naluri hewani.
Padahal cinta
adalah fitrah, cinta pada dasarnya adalah salah satu kasih sayang Allah yang
diberikannya pada makhluk yang dibumi. Cinta itu ada untuk menjaga kelestarian makhluk
hidup. Tanpa cinta mungkin manusia, dan hewan punah.
Sayangnya, cinta
zaman sekarang diartikan dengan asas matrealisme dan kebebasan. Ketika cinta
datang pada seorang remaja misalnya, maka pikiran remaja itu pasti menuju yang
namanya pacaran. Akibat dari paradigma yang salah itu maka muncullah wanita
hamil di luar nikah, bencana HIV AIDS,
remaja yang tak bermoral, kenakalan remaja dan bencana bencana lainnya. Ya sekali
lagi semua ini bermula dari kesalahan berfikir tentang cinta, Padahal bukan
begitu cara pandang islam. Islam tidak mengeksplotasi nilai cinta. Cinta itu
mesti dijaga, bukan di umbar. Hingga saatnya nanti Allah pertemukan dengan
seseorang yang sudh tertulis untuk kita cinta akan bersemi dengan sendirinya
pastinya dengan ikatan yang halal.