Minggu, 15 Januari 2012

ketika perpustakaan menjadi identitas

-->
Ketika perpustakaan  jadi identitas
Kawan tahukah kamu dimana letak perpustakaan kota mu? Pernahkah kamu mengunjunginya? Apakah kamu betah diem disana? Berapa buku yang pernah kamu baca dari perpustakaan? Berapa orang yang biasa kamu jumpai diperpustakaan?Apa yang biasanya mereka kerjakan?
Bagi banyak orang jawaban jawaban pertanyan pertanyaan diatas adalah jelas: geleng geleng atau angkat bahu. Perpustakaan yang lazim di kenal barangkali Cuma pepustakaan sekolah atau kampus. Orang kesana karena ada tugas dari dosen dan harus mencari literature. Selain itu ingin belajar  pada suasana nyaman. Sambil sekali kali membaca Koran hari ini. Jarang orang datang ke perpustakaan, apalagi perpustakaan non kampus, untuk membaca buku bermutu yang ada didalamnya. Sehingga Perpustakaan menjadi tempat yang sepi, agak berdebu dan angker. Hanya peniliiti yang memerlukan yang singgah kesana. Para penjaganya juga kesepian, sehingga ada perpustakaan yang buka hanya kalau ada permintaan saj.
Beberapa perpustakan lalu ganti strategi. Mereka menjaring para pembaca dengan menyediakan lebih banyak bacaan popular, komik, teenlit dan multi media. Perpustakkan pelan pelan beralih fungsi menjadi tempat penyewaaan komik atau DVD. Namun bertahan menjadi perpustakaan seperti ini tentu tidak mudah. Dalam waktu singkat koleksi popular itu pasti akan termakan zaman. Tidak murah untuk terus mengupdate koleksi itu seusai penerbit terakhir yang jumlahnya makin banyak.  Perpustakaan adalah proyek rugi, cost center bukan profit center.
Ini berbeda dengan seribu tahun yang lalu
Tahun 1000M , di bagdad pedagang buku Ibn an Nadim mempublikasikan al –Fihrist ( catalog pengetahuan ). Buku ini terdiri dari 10 jilid dan memuat  seluruh judul  buku dalam bahasa arab  yang terbit hingga saat itu, baik dalam ilmu ushuludin, astronomi, matematika, fisika, kimia dan kedokteran. Buku buku yang masuk dalam catalog itu sudah terjamin mutunya dan menjadi buruan para pengelola perpustakaan, berikut ahli salinnya, juga par cerdik  cendekia yang tidak mau dikatakan ilmunya dibawah standar, hanya karena tidak mengenal buku yang ada dalam catalog itu. buku yang saatitu masih di tulis tangan tentu saja sanga mahal. Untunglah bagi yang tak mampu membelinya tersedia di  perpustakaan.
Maka tertariklah mahasiswa dari timur dan barat pada perpustakaan perpustakan di dunia isalam. Perpustakan Cordoba memiliki koleksi setengah juta buku. Di Kairo ada beberapa ratus pustakawan yang melayani perpustakaan khilafah dengan koleksi dua juta buku. Ini dua puluh kali lipat perpustakaan mesir kuno di Alexendria sebelum di hancurkan oleh romawi. Pernahkah anda menghitung berapa buku yang dapat dimuat dalam rak buku anda ? satu rak buku standart yang banyak terdapat di rumah rumah dapat memuat rata rata 100 buku. Jadi di perpustakaan kairo kira kira terdapat 20 000 rak. Kalau satu rak berikut ruang utnuk orang lewat perlu area 1 meter persegi , maka berarti luas lantai perpustakkan itu kira kira dua hektar.WOW
Para pustakawan di msa itu wajib memiliki ilmu yang terkait dengan koleksi yang di urusnya. Ia bukan hanya seorang yang tahu judul buku, pengarang dan  di rak mana letaknya. Namun pustakawan yang mengurus buku buku fiqih  harus pula seorang faqih, seperti halnya pustakawan yang mengurus karya karya al Biruni ayau al –Haitsam harus pula seorang astronom atau matematikawan. Para pembaca dapat berkonsultsi tentang isi buku buku itu pada para pustakawan.
“ANEH” bahwa diRoma tidak seorang pun yang memiliki pendidikan cukup, bahwa sekedar utnuk menjaga pintu perpustakaan itu” keluh orang yang mestinya paling tahu, yaitu Gebert de Aurillac, yang pada tahun 999 M menjadi paus di Roma! Demikian Sigrid Hunke dalam ALLAHs Sonne ueber dem Abendland.
Pada tahun terssebut, saat dunia islam, Abulkaasis menyelesaikan ensklopedi bedah. Al Biruni menunjukan kejeniusan layaknya “ Aristotelesnya dari Arab “ dengan karaya karya tentang peredaran bumi mengelilingi matahari. Al Haitsam menulis prinsip prinsip optika serta bereksperimen dengan kamera obscura dan berbagai  bentuk lensa cermin.
Pada tahun tersebut saat dunia sedang menikmati zaman keemasannya, dunia barat ketakutan akan segera datangnya hari kiamata. Anak lelaki kaisar otto II yang berusia dua puluh tahun berziarah ke Roma dan berpidato dalam penuh suasa sacral, “ Sekarang Kristus akan segera dating utnuk mengadili dunia denga api karena kedurjaan sudah merajalela di Roma”
Pada saat yang sama dan usia yang sama, Ibnu sina sedang memulai mengisi dunia denga karya karya intelektual hebatnya.
Dua dunia yang sangat berbeda. Berawal dari pandangan hidup yang juga amat bebeda. Masyarakat islam di tuntut sabda Nabinya , yang lain berbunyi, “ barnag siapa meninggalkankampung halamannya untuk mencari ilmu, dia seperti sedang pergi jihad fi sabillillah”, “ tinta seorang pembelajar adalah tinda orang mulia daripada darah seorang syuhada “, dan “ Ilmu itu ternak kaum muslim yang hilang, maka dimana saja kamu dapatkan, ambillah sekalipun dari lisan kafir’
Sementara itu masyarakat barat terpaku pada kata kata Paulus, yang berbunyi “ apakah Tuhan tidak mengatakan  bahwa pengetahuan dunia ini sebagai hal tercela?” Saatu satunya sumber kebenaran untuk kaum nasrani adalah kitab sucinya, karena itulah meski Romawi mewaris banyak peradaban tua seperti yunani dan Mesir, mereka lalu membuangnya sejak beralih agama  Nasrani. Perpustakaan Alexandria  yang sangat tua dibakar habis. Andai kata tidak ada kaum muslim yang rajin memungut kembali ilmu pengetahuan Yunani, menerjemahkannya dan menguleksinya di perpustakaan perpustakaan, barangkali kita sekarang ini tak lagi mengetahui tentang hokum hidrostatika Archimedes atau geometri Euklides
Sementara itu orang orang kaya seantero  dunia khilafah menjadikan wakaf perpustakan sebagai salah satu cara menunjukan identitas. Di Bagdad saj ada 200 perpustakakn pribadi yang di wakafkan untuk umum. Dan tidak main main banyak yang mewakafkan berikut suatu asset  produksi untuk membiayai operasional perpustakkan selamanya. Saying saat serbuan tentara Mongol, nyaris seluruh perpustakkan itu di hancurkan, sampai air sungai Tigris menjadi hitam warnanya.
Begitulah ..kawan sepenggal sejarah di masa Daulah khilafah, disaat Islam memimpin , disaat hukum Allah di tegakkan.
Kaum Muslimin menjadi Gila ilmu pengetahuan,
Belajar jadi murah, ketika akses ilmu pengetahuan di buat mudah oleh Negara. Negara memiliki visi yang dibuktikan dengan tindakan.  Negara mempromosikan ilmu sehingga rakyat cinta ilmu, sehingga para cerdik pandai mencari  ilmu dan mengajarkannya dengan semangat mencari tuhan.
Sehingga tidak ada orang miskin yang terhalang belajar oleh kemiskinannya. Dan tidak ada orang yang di anggap kurang cerdas dalam mencari tuhannya.
Rindukah??
mualilah dari diri kita untuk terus belajar dan belajar.PENCARI ILMU PENCARI TUHAN.
Sumber:  TSQ stories edisi 2, Dr. Ing Fahmi Amhar

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum.Menarik sekali zaman dahulu itu islam memang berjaya terbukti dengan fondasi ilmu pengetahuan yang mengakar di masyarakat menggunakan pendasaran yang ilmiah.namun sekarang malah islam islam di negara berkembang yang dijajah idealisme bangsa barat.oiya salam kenal saya dari blog sebelah saya ketemu blog ini karena interest kita soal justice voice sama.o iya mbak mohon bantuannya ya saya masih pemula soal blogging

    BalasHapus
  2. waalaikumsalam ..salam kenal juga...
    Yaps..betul umat muslim sekarang lagi diracuni..

    BalasHapus