Minggu, 15 Januari 2012

memoar hasan Al bana


Kita sedang membicarakan seorang tokoh yang wafat dalaam usia 43 tahun (1605-1949) kini dunia sedang menanti penyebaran dakwah yang dirintisnya, di lebih dari 70 negara, seperti siaran majalah dunia islam: Al Mujtama’. Dia yang lulus meraih rangking kelimam dari seluruh pelajar Mesir dan hafal seluruh bait syi’ir ( puisi arab), juga prosa_selain alquran dan Hadits, yang setara jumlahnya dalam usia SMA saat itu. “ Pemimpin besar hanya dilahirkan sekali dalam setiap kurun” demikian pameo sejarah menyebutkan.
            Bila pemimppin itu hasan AL Bana mungkin pameo ini jadi signifikan. Pengakkuan atas kepimimpinannya, baik dalam kapasatitas intelektualnyasebai konseptor, secara moral sebagai murabbi (pendidik), maupun secara social politik sebagai pemimpin jamaah yang berkembang pesat dan laten, mungkin malah menjadi celah bagi orang orang hasad untuk menolah dan meragukannya.
Bila kebesaran tersebut tak  diketahui umatnya, itu mungkin karena nasib mereka yang selaluu malang dan dirundung derita, selalu terlambat mengenai banyak hal kecualii dekandasi moral yang gencara dijajakan lawan lawan mereka.
Tetapi bila pengakuan itu dating dari tokoh tokoh sekelas Drs. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Ismail Faruqi, atau Allamah abu Hasan Ali AN-Nadawi tentunya menjadi lain. Atau bila Richard Michael-agen CIA di kedubes AS di Cairo dan jadi konsultan Departemen Pendidikan Mesir , mengajukan rekomendasi agar mewaspadai pengajaran sirrah Nabawiyah ( perjalanan Nabi , karena akan membangkitkan militansi generasi muda muslim, jelaslah kini siapa sesungguhnyaa sosok yang mulia ini. Dialah tokoh yang manhaj tarbiyah ( system pembinaanya ) mewajibkan materi sirah tersebut. Dan dijadikan sebagai salah satu materi penting disamping aqidah, alQuran, Al Hadits, al ghazwul fikri ( invasi pemikiran ) dll.
Betapa tidak, diusianya yang belum lagi melampaui  angka 22, ia sudah memimpin jamah ikhwanul muslimin. Bila pemimpin suatu jaringan  perdagangan putau pada arus bawahnya berumur 19 tahun,  itu lumrah saj. Namun yang dipimpin oleh pemuda ini adalh tokoh sekeliber  Syaikh Muhibbudin Al Khatib ( seorang tokoh salafi, tokoh pada jama’ah Ansharus Sunnah dan Al Hadits ). Syaih Amien Al Husaini ( Mufti Palestina ), Syaikh D. Mustafa As Siba’I ( ahli hokum , pejuang palestina dan intelektual yang disegani), juga Syaikh Muhamad Al Faraghly ( patriot besar yang hanya mau meniggalkan Iskandaria bila Al Bana menyuruhnya, bukan ingris dengan segala kekuatan tentaranya ) dan lain lain.
Beberapa tahun kemudian, ia menggegerkan Inggris dan Zionis karena memimpin pasukan mujahidin sebanyak 1000 personil untuk membebaskan palestina. Usahanya hampir berhasil kalau tidak ada maker penyerahan mandat ke pihak resmi arab yang noe bene merupakan perpanjangan tangan imperialis Barat, ini mungkin kelemahan sekaligus kelebihannya, Lemah karena terpaksa percaya kepada kejujuran Universal fitrah, yang akhirnya justru mengantarkan mereka kepada derita yang berkepanjangan Karenna dikhianati . Mirip dengan nasib malang bansa Moro di Minandau, yang bertahan tak mau turun gurun untuk damai dan menyerahkan senjata kepada bangsa Philip, Karena mereka yakin ini cumin tipuan.  Namun setelah adanya tekanan bujukan penguasa Arab, termsuk Muammar Kadhafi, yang baru saja menerima kunjunngan diplomatic perdamainan mantan peragawati manila yang jadi first lady di Malacanang, akhirnya merka pun turun ke desa desa untuk di khianati dan dibantai oleh angkatan udara. Adapun kelebihanya,  mungkin pada kemenangan sejarah, bahwa mereka dan sejenisnya adalah orang orang yang tidak suka pengkhianatan dan kkecurangan. Bahwa kemenangan dengan kelicikan adalah kekalahan.
Tampaknya sejarah telah dikhianati ketika tidak ada informs kepada bangsa indonesi khususnya. Dan dunia islam pada umumnya. Betapa di hari kematiannya , menyusul penembakan misterius dengan luka yang sebenarnya masih bisa di obati pihak rumah sakit membiarkannya terkapar tanpa pertolongan . Sejarah menyaksikan bangsa amerika berhamburan ke jalan. Menari. Dan menghabiskan bergalon gallon khamar . tanda kegembiraan yang amat besar. Mereka merayakan kemenangan atas  wafatnya tokoh satu ini.

Sumber : syeikhut tarbiyah Memoar Hasan Albana oleh KH. Rahmat Abdullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar