Kita sedang membicarakan seorang tokoh yang wafat
dalaam usia 43 tahun (1605-1949) kini dunia sedang menanti penyebaran dakwah
yang dirintisnya, di lebih dari 70 negara, seperti siaran majalah dunia islam:
Al Mujtama’. Dia yang lulus meraih rangking kelimam dari seluruh pelajar Mesir
dan hafal seluruh bait syi’ir ( puisi arab), juga prosa_selain alquran dan
Hadits, yang setara jumlahnya dalam usia SMA saat itu. “ Pemimpin besar hanya
dilahirkan sekali dalam setiap kurun” demikian pameo sejarah menyebutkan.
Bila pemimppin itu hasan AL Bana
mungkin pameo ini jadi signifikan. Pengakkuan atas kepimimpinannya, baik dalam
kapasatitas intelektualnyasebai konseptor, secara moral sebagai murabbi
(pendidik), maupun secara social politik sebagai pemimpin jamaah yang
berkembang pesat dan laten, mungkin malah menjadi celah bagi orang orang hasad
untuk menolah dan meragukannya.
Bila kebesaran tersebut tak diketahui umatnya, itu mungkin karena nasib
mereka yang selaluu malang dan dirundung derita, selalu terlambat mengenai
banyak hal kecualii dekandasi moral yang gencara dijajakan lawan lawan mereka.
Tetapi bila pengakuan itu dating dari tokoh tokoh
sekelas Drs. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Ismail Faruqi, atau Allamah abu Hasan Ali
AN-Nadawi tentunya menjadi lain. Atau bila Richard Michael-agen CIA di kedubes
AS di Cairo dan jadi konsultan Departemen Pendidikan Mesir , mengajukan
rekomendasi agar mewaspadai pengajaran sirrah Nabawiyah ( perjalanan Nabi ,
karena akan membangkitkan militansi generasi muda muslim, jelaslah kini siapa
sesungguhnyaa sosok yang mulia ini. Dialah tokoh yang manhaj tarbiyah ( system
pembinaanya ) mewajibkan materi sirah tersebut. Dan dijadikan sebagai salah
satu materi penting disamping aqidah, alQuran, Al Hadits, al ghazwul fikri (
invasi pemikiran ) dll.
Betapa tidak, diusianya yang belum lagi
melampaui angka 22, ia sudah memimpin
jamah ikhwanul muslimin. Bila pemimpin suatu jaringan perdagangan putau pada arus bawahnya berumur
19 tahun, itu lumrah saj. Namun yang
dipimpin oleh pemuda ini adalh tokoh sekeliber
Syaikh Muhibbudin Al Khatib ( seorang tokoh salafi, tokoh pada jama’ah
Ansharus Sunnah dan Al Hadits ). Syaih Amien Al Husaini ( Mufti Palestina ),
Syaikh D. Mustafa As Siba’I ( ahli hokum , pejuang palestina dan intelektual
yang disegani), juga Syaikh Muhamad Al Faraghly ( patriot besar yang hanya mau
meniggalkan Iskandaria bila Al Bana menyuruhnya, bukan ingris dengan segala
kekuatan tentaranya ) dan lain lain.
Beberapa tahun kemudian, ia menggegerkan Inggris dan
Zionis karena memimpin pasukan mujahidin sebanyak 1000 personil untuk
membebaskan palestina. Usahanya hampir berhasil kalau tidak ada maker
penyerahan mandat ke pihak resmi arab yang noe bene merupakan perpanjangan
tangan imperialis Barat, ini mungkin kelemahan sekaligus kelebihannya, Lemah
karena terpaksa percaya kepada kejujuran Universal fitrah, yang akhirnya justru
mengantarkan mereka kepada derita yang berkepanjangan Karenna dikhianati .
Mirip dengan nasib malang bansa Moro di Minandau, yang bertahan tak mau turun
gurun untuk damai dan menyerahkan senjata kepada bangsa Philip, Karena mereka
yakin ini cumin tipuan. Namun setelah
adanya tekanan bujukan penguasa Arab, termsuk Muammar Kadhafi, yang baru saja
menerima kunjunngan diplomatic perdamainan mantan peragawati manila yang jadi
first lady di Malacanang, akhirnya merka pun turun ke desa desa untuk di
khianati dan dibantai oleh angkatan udara. Adapun kelebihanya, mungkin pada kemenangan sejarah, bahwa mereka
dan sejenisnya adalah orang orang yang tidak suka pengkhianatan dan
kkecurangan. Bahwa kemenangan dengan kelicikan adalah kekalahan.
Tampaknya sejarah telah dikhianati ketika tidak ada
informs kepada bangsa indonesi khususnya. Dan dunia islam pada umumnya. Betapa
di hari kematiannya , menyusul penembakan misterius dengan luka yang sebenarnya
masih bisa di obati pihak rumah sakit membiarkannya terkapar tanpa pertolongan
. Sejarah menyaksikan bangsa amerika berhamburan ke jalan. Menari. Dan
menghabiskan bergalon gallon khamar . tanda kegembiraan yang amat besar. Mereka
merayakan kemenangan atas wafatnya tokoh
satu ini.
Sumber : syeikhut tarbiyah Memoar Hasan Albana oleh
KH. Rahmat Abdullah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar