Kamis, 14 Maret 2019

Bahagia

Bahagia dalam rumah tangga adalah sebuah seni mengolah rasa. Melihat sisi lain dari setiap keadaan. Komunikasi akan selalu menjadi hambatan, karena kita memang makhluk dari planet berbeda. Maka yang mampu kita lakukan hanyalah mengolah apa yang ada dalam diri kita, daripada lelah menuntut bicara pada pasangan kita..

Bahagia hanya persoalan seni bagaimana kita mengolah rasa, mengalah..mengalah dan mengalah.. Maka akhir dari semuanya kitalah pemenangnya. Itulah hukum yang berlaku dan memang benar adanya..

Tapi kemenangan itu bukan seperti sesuatu yang kita bayangkan kemenangan diarena gulat...bukan..bukan seperti itu..

Kemenangan itu hadir karna kita mengalah dengan mengolah rasa,hingga pasangan kita mengetahui ketulusan kita.. Tulus ingin sama sama berubah..tulus ingin sama sama membahagiakan..

Tiada yang lebih membahagiakan ketika kekasih yang kita cintai bahagia.. Yah itulah kuncinya.. Kebahagiaan suami kita adalah kebahagiann kita,pun begitu sebalikanya..

Maka cobalah mengalah dan mengolah rasa, agar kebahagian itu tercipta🄰

Iri

Aku selalu iri kepada orang orang yang sedang di uji dengan ujian yang tak pernah terbayangkan oleh ku.

Mereka yang sedang di uji, adalah mereka mereka yang dirangkul erat olehNya.

Agar hanya bersujud pasrah padanya..

Aku iri pada mereka yang di uji, karena pasti mereka akan merasa kehadiranNya begitu dekat


Hmmpt.. Aku tersadar sendiri, bahwa aku pun sedang di uji..namun kenapa tak ku sadari kehadiranNya yang begitu dekat. Aku hanya mengeluh " sepi", sepi dan sepi.. Padahal ia sang pemilik hati selalu menemani...

Yaaa..seharusnya aku iri pada diriku sendiri, karena ia pun sedang di uji dan dalam masa ujian.. Namun diri ini tak begitu sadar, hingga hampa saja yang terasa...

Sepi

Aku merasa kesepian, apalagi setelah bangun dari tidur siang, sepi itu seperti dingin yang menyergap, ia tak mau enyah, meski gaduh disekitar

Sepi..kata ku pada suami ku, entah apa yang ia pikirkan.. Aku tak begitu tau apa tanggapannya, lakilaki yang tak pandai mengungkap rasa..

Malah aku senang, ketika dia marah pada ku jumat kemarin, saat aku pergi belanja dan ia tertidur lelap di rumah sendiri, aku merasa senang, karena ia sedang mengungkapkan rasa.. Hingga aku bisa mengintip seluruh isi hatinya..meski sepersekian detik tertutup lagi..

Sepi, sepi ini seperti sepi yang dulu.. Ya dulu pun ia selalu menghantui, meski tak membuat ku takut, hanya saja sering menimbulkan tanya..

Kenapa sepi ini hadir?

Aku sedang meraba dan menimbang rasa, agar menemukan secercah cahaya dari tanya ini..


Sepi kata ku, sepi itu hadir bukan karena aku sedang sendirian, malah lebih saat keramaian yang terpause sejenak.. Yaa saat aku masih bisa melihat ramainya orang..disitulah aku merasa kesepian..

Dulu..
Aku kira kekasih dapet menghapus rasa ini, nyatanya malah aku lebih sering merasa sepi. Bahkan ketika ia sedang di sisi ku..

Lalu ku timbang lagi semua rasa yang ku inginkan..aahhh..ternyata aku hanyalah manusia yang tak pandai bersyukur, setelah begitu banyak nikmat dari nya.. Aku hanya banyak menuntut ingin ini dan itu

Sepi kataku..
Satu kata yang akan ku peluk erat erat.. Karena di persinggahan nanti kesepian lah yang menemani...