Pukul 16.00 wib, hari yang cerah untuk waktu yang sudah semakin sore, terlalu cerah bahkan. Tapi saat aku Mau mencoba menatap langit yang biru dibalik bayang klinik, petir menyambar begitu keras. Kaget.. Setelah petir menyambar keras, Dari situ yang kuingat hanya waktu berjalan begitu cepat..
"Abah-abah.. Cepet kesini" aku hampir berlari menembus derasnya hujan, aku memangku bayi baru lahir menuju ambulance yang akan mengantarkan Ku kerumah sakit, hari itu langit menangis untuk ini, untuk penciptaan yang belum sempurna, ataukah aku saja yang belum memahami tentang hakikat penciptaan ini. "Bah.. Cepet ya, ngebut aja, bayinya masih gerak" sedikit cemas aku duduk dikursi Mobil. Hari itu aku mencoba berlari, berlalri untuk memahami hakikat semua ini.
Hari itu juga aku ingat, ingat saat aku duduk dibangku kuliah, mendengarkan seorang dokter anak yang menjadi dosen Ku.
" beberapa kelainan congenital pada bayi, salah satunya anencepalus, penanganannya jika kalian menemukan kasus ini adalah tidak usah dirujuk cukup ditunggu saja maximal 24 jam, bayi dengan kelainan ini tidal dapat bertahan lama"
Tapi hari itu aku tak ingin mendengarkan dosen itu, aku hanya ingin berlari, memastikan segalanya. Memilih pergi meski hujan begitu sangat deras..
Tapi benarlah kata dosen Ku kenapa untuk kasus seperti itu tidak udah dirujuk,ya kKarena lebih baik begitu
Saat berlari aku juga teringat suami Ku, mungkin Semarang ia sedang dongkol.. Menelepon Ku berkali Kalitapi tak diangkat. Mungkin ia juga sedangsebal kKarena waktu liburnya selalu harus bsrbagi dengan klinik Dan pasien Ku
Ia selalu cemburu, sangat pencemburu. Ketika aku tampil cantik didepan pasien, ketika aku bisa begitu energic saat paryus Dan melupakan morning sickness. Ketika aku tak sempat mengangkat telepon di klinik
Ia sangat sangat pencemburu..
"Abi milik aku seutuhnya" aku tersenyum padanya, "iya.. Tapi ayang gak milik abi seutuhnya, setengah Dari ayang milik pasien" katanya ketus.. Aku hanya tersenyum padanya.
Aku teringat suatu hari suami Ku meminta aku full dirumah, saat itu aku masih memegang salah satu bisnis pakaian yang sudah tiga tahun lamanya aku bangun.
"Yaudah jangan ke klinik, fokus aja ke bisnis"
Aku benar benar ingin menangis saat mendengar ini. Ada sesuatu yang tidak diridhai suami Ku, yang aku sangat menyenaginy tapi suami Ku tidak, iya..aku tau Karna jadwal piket yang mengharuskan aku 24 jam di klinik, tapi bagaimana lagi profesi ini seperti sudah melekat di dalam diri, susah dilepaskan, meski dengan salary yang jauh Dari cukup, tapi ada banyak hal yang kudapat Dari sini..
" ayang.. Aku mau ngelepasin bisnis, tapi jangan suruh aku berhenti di klinik, aku sudah teramat sangat mencintai profesi ini"
Hari itu aku menangis, mencoba berfikir jernih, bahwa sebaik apapun amal yang aku lakukan, tetap saja, surga ku sekarang ada pada ridho suami,, akan sangat percuma aku bersinar di luar, tapi dalam rumah ku aku kelabu, yang seharusnya kubangun surga disana.
Begitulah, setiap hari, setiap aku piket, setiap ada pasien, setiap ada partus, yang Ku ingat selalu tiga, ibu Hamil, bayi da suami Ku...
Love you sayang, tulisan ini aku persembahkan untuk mu, untuk mu yang telah jatuh cinta pada Ku lewat diary ini..
Love..