Senin, 29 Juli 2013

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban ya ramadhan..
suasana suka cita terasa ketika menyambut ramadhan bulan penuh keberkahan dan keagungan ini. Suasana peribadahan yang begitu kuat menjadikan semua orang yang mengaku muslim mau tidak mau akan terbawa. Pada bulan ini masjid masjid dan mushala penuh oleh para jamaah untuk melaksanakan shalat tarawih. Tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, semua mengikuti ibadah sunnah tersebut meski banyak juga yang hanya ikut-ikutan.

Rasulullah SAW menjelaskan betapa agungnya ramadhan ini . pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Setiap muslim diwajibkan berpuasa dan Allah memberikan ganjaran berlipat ganda kepadanya yang beramal shalih dibulan ini.Bahkan, Allah memberikan pahala yang luar biasa di lailatul qadar, berupa paha senilai amal shalih selama 1000 bulan atau 83 tahun lebih.


Namun ada satu hal yang terlupakan dari momentum ramadhan ini yakni semangat perjuangan. Mungkin bagi sebagian besar kaum muslimin justru lemas dan kurang semangat karena kekurangan energi. Sehingga etos kerja justru menurun. Jam kerja berkurang. Padahal kalau kita mau menengok sejarah rasulullah dan para sahabat, justru mereka bertambah semangatnya dalam beramal shlaeh ketika ramadahan. Mereka tidak beramal shaleh individual yang hemat energy, namun justru beramal shalih sosial yang memerlukan energi yang besar. Mereka dengan gembira bertempur di medan jihad demi meraih kemuliaan ramadhan.


Di negeri ini suasana ramadhan dari tahun ke tahun memang kian semarak. Namun secara kehidupan , kaum muslimin hidup dalam keprihatinan. Didalam negeri, menjelang ramadhan pemerintah memberikan kado pahit bagi kaum muslimin yaitu kenaikan harga BBM, padahal seperti yang kita ketahui tanpa kenaikan harga BBM pun menjelang Ramadhan harga kebutuhan pokok selalu naik, Hal ini menyebabkan beban rakyat semakin berat. apalagi bagi mereka yang berada dalam kemiskinan. Alasan utama yang selalu dikemukakan oleh pemerintah menaikan harga BBM adalah selama ini subsidi BBM telah salah sasaran dan yang menikmati BBM bersubsidi adalah mayoritas golongan ekonomi menengah-atas, karena salah sasaran dan memberatkan keuangan Negara, maka BBM bersubsidi harus dinaikan. Kalau subsidi BBM salah sasaran lalu bagaimana hutang century yang di subsidi oleh pemerintah, Korban lumpur lapindo yang juga di ambil oleh pemerintah paahal penyebab lumpur lapindo ini adalah perusahaan swasta yang pemiliknya termasuk 40 orang terkaya. Pemerintah hanya berdalih “menyelamatkan” APBN nyatanya menyengsarakan rakyat.


Kondisi kaum muslimin seperti ini tidak akan banyak berubah jika kondisi global kaum muslimin tidak diubah. Pangkal persoalan semua itu adalah tidak diterapkannya syariah islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Gara-gara tidak ada yang menyatukan, kaum muslimin terpecah belah secara politik. Karenanya ramadhan semestinya menjadi momentum untuk perubahan karena kaum muslimin sedang dalam suasana keimanan dan ketaatan kepada Allah Swt.


Perubahan yang dimaksud tentu saja bukan hanya perubahan yang sifatnya individual semata. Perubahan itu bersifat sistemik dan komprehensif. Maka tidak tepat kalau orang yang berpuasa hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa mau peduli urusan ummat. Saatnya kaum muslim bangkit ke medan dakwah melaksanakan amar makruf nahi munkar untuk mengembalikan Islam ke posisi semula.

Selasa, 19 Maret 2013

PENDIDIKAN INDONESIA BERLUMUR DOSA DARI AKAR HINGGA BUAH

Akhir-akhir ini institusi pendidikan di Indonesia semakin dituntut untuk menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas itu sendiri didefinisikan sebagai sesuai dengan kebutuhan pasar lapangan kerja. Kurikulum-kurikulum pendidikan yang dibuat, universitas- universitas yang didirikan adalah untuk mencetak masyarakat yang siap dimanfaatkan oleh pasar. Orientasi pendidikan yang sejatinya sebagai proses pembentukan kepribadian dan pendewasaan kedepannya akan berubah menjadi alat produksi yang penekanannya focus untuk menyediakan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar, lebih tepatnya kebutuhan para kapitalis/pemilik modal. Sistem pendidikan seperti ini pada akhirnya melahirkan manusia-manusia mesin. Pandai secara akademis tapi buta pemahaman agamanya, memiliki ketrampilan tetapi tidak memiliki kepribadian baik. Lebih buruk lagi, yang dihasilkan adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moral. Ini adalah out put umum dari sistem pendidikan dewasa ini. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan sekular. Sebagaimana yang tertuang pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagaman, dan khusus. Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini merupakan dosa paling mendasar system pendidikan Indonesia. Terbukti, system model sekularisme seperti itu telah gagal melahirkan manusia salih berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan zaman melalui penguasaan sains dan teknologi. Betapa banyak kaum intelektual lulusan pendidikan umum yang tetap saja 'buta agama' dan rapuh kepribadiannya? Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai tsaqâfah Islam dan sisi kepribadiannya secara relatif tergarap baik. Akan tetapi, di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi. Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama tidak mampu terjun di sektor modern, mereka terkumpul di dunianya sendiri (pesantren, madrasah, dosen/guru agama, Depag). Dunia pendidikan dikatakan semakin maju dengan pengembangan ilmu pengetahuan - teknologi (iptek) dan riset di berbagai bidang keilmuan. Tapi faktanya, universitas-universitas terkemuka yang sibuk dengan urusan pemeringkatan riset ilmiah, justru gagal memberikan jawaban untuk masalah narkoba, free sex, tawuran, hura-hura, kebencian, iri hati, balas dendam, ketidakjujuran, korupsi dan berbagai bentuk kehancuran moral lainnya. Yang lahir dari pendidikan sekulerisme tersebut adalah sikap materialistic. Dimana pendidikan bukan lagi sebuah proses pembentukan kepribadian dan pendewasaan diri untuk bisa hidup bermartabat tetapi pendidikan tidak lebih sekadar upaya atau sarana mencari pekerjaan. Pendidikan merupakan sabuk pengaman untuk meraih sukses materi dan karier dimasa depan. Lebih jauh pendidikan Sekuler-Materialistik ini berkontribusi melahirkan peserta didik yang pragmatis. Mungkin hanya sedikit di antara mereka yang memegang nilai idealisme, selebihnya lebih pragmatis. Sekadar ilustrasi, pernah ada salah seorang tenaga pengajar mengadakan survei mengenai sosok dosen yang diidealkan. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Sosok dosen ideal adalah yang santai, tidak banyak tugas dan memberi nilai mudah. Sebaliknya, yang dibenci adalah yang konsisten, disiplin, banyak tugas dan nilainya mahal. Belum lagi sikap apatis yang sudah menggejala disebagian intelektual muda/ mahasiswa sebagai akibat system pendidikan sekuler ini. Mereka sama sekali tidak peduli dengan penderitaan dan kesengsaraan masyarakat. Bagi mereka yang penting selamat secara pribadi. Ngapain susah-susah mikirin nasib umat. Nonton sepakbola bagi mereka jauh lebih menyenangkan daripada mengikuti forum-forum kajian yang membincangkan persoalan umat. Kondisi seperti ini melahirkan budaya individualis yang semakin tajam. Bagi mahasiswa seperti ini keberhasilan studi merupakan cita-cita yang paling dijunjung tinggi dan senantiasa jadi haluan perjuangannya. Bagi mereka, standar keberhasilan itu adalah meraih nilai studi yang setinggi-tingginya. Biasanya, kehidupan mahasiswa seperti ini hanya berkisar antara rumah dan kampus. Kupu-kupu (Kuliah pulang-kuliah pulang). Angan-angan mereka kalau sudah lulus kelak adalah pekerjaan yang mantap dengan gaji yang besar, istri yang cantik, fasilitas yang mewah, dan anak-anak yang lucu dan manis. Hanya saja, ketika dunia dikendalikan oleh kaum intelektual produk pendidikan sekuler seperti itu hasilnya adalah seperti yang sekarang ini sudah kita lihat bersama. Ketimpangan ekonomi, ketidakadilan hukum, degradasi moral, makin terkikisnya kohesi sosial, kezaliman dimana-mana dan semua kebrobrokan menghiasi negeri ini. Aktor-aktor utama yang bermain dibalik semua kehancuran yang menimpa Indonesia dan seluruh dunia adalah mereka yang berasal dari kalangan intelektual produk pendidikan sekuler. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang membuat negeri yang kaya ini terpuruk dalam perangkap hutang. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang memberikan kekayaan alam negeri ini kepada asing dan membiarkan rakyatnya mati kelaparan. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang begitu mudah menghukum nenek Minah lantaran mencuri 3 buah cacao dan begitu sulitnya menjerat seorang Anggodo Wijoyo dan koruptor kelas hiu ganas lainnya. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang menyebabkan Porong Sidoharjo hilang dari sejarah. Konon kerugian yang diakibatkan ulah PT. Lapindo mencapai 45 Triliun! Dan hingga saat ini belum jelas pertanggungjawabannya terhadap masyarakat. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang selalu menyatakan bahwa pasar bebas itu baik, membiarkan mekanisme pasar bekerja itu bentuk perekonomian yang unggul. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang selalu memuja dan memuji ekonomi Neolib yang sudah terbukti sangat ringkih. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang selalu pintar mengambil muka terhadap Barat terutama Obama dan menjadikan Amerika seakan malaikat penolong, padahal Negara penjajah itu hingga saat ini, tidak bisa menolong diri sendiri keluar dari krisis ekonomi yang sedang menimpanya. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang selalu menjadi antek bagi Negara-negara Kapitalis penjajah dengan ketundukan secara total. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang senantiasa membenci kaum muslim untuk beribadah secara kaffah kepada Allah. Mencurigai mereka yang beramal saleh, membela mereka yang beramal salah. Mereka kaum intelektual-sekuler lah yang selalu menghalang-halangi kaum muslim dari upaya menerapkan Syari’ah Islam dibawah naungan Khilafah. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang menyebabkan kehancuran negeri ini. Ini semua merupakan bentuk dosa besar kaum intelektual-sekuler yang akan direkam jelas oleh sejarah. Ini semua tidak boleh didiamkan terus menerus jika tidak kehancuran akan semakin parah. Dosa-dosa yang dilakukan oleh kaum intelektual-sekuler tersebut telah meluluhlantakkan semua sendi kehidupan karena itu harus segera dihentikan. Disinilah peran kita. Bahwa kita semua berkewajiban untuk menyelesaikan persoalan pendidikan negeri ini dengan penyelesaian mendasar secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perombakan secara total yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma Islam. Bentuk nyata dari solusi mendasar itu adalah mengubah total UU Sistem Pendidikan yang ada dengan cara menggantinya dengan UU Sistem Pendidikan Islam. Hal paling mendasar yang wajib diubah tentunya adalah asas sistem pendidikan. Sebab asas sistem pendidikan itulah yang menentukan hal-hal paling prinsipil dalam sistem pendidikan. Sesungguhnya paradigma pendidikan Islam memberikan jawaban atas persoalan pendidikan sekuler ini dengan pendidikan karakter yakni menciptakan anak didik yang berkepribadian Islam, mememiliki pemahaman yang dalam terhadap tsaqofah Islam, menguasai IPTEK dan ketrampilan yang memadai. Sistem pendidikan yang materialistik-sekularistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekular. Maka upaya untuk menciptakan pendidikan Islam tidak akan sampai pada tujuan jika negara yang menaungi masih negara sekuler. Oleh karena itu, maka kewajiban pertama dan utama kita semua adalah merubah negara yang berdiri ringkih diatas landasan sekulerisme ini kepada Negara yang berdiri kokoh diatas landasan ideology Islam. Itulah Negara Khilafah Islamiyah! Islam telah menentukan bahwa negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan dan mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para Khalifah dahulu. Negara Khilafah akan menggratiskan biaya pendidikan untuk seluruh rakyatnya tanpa pandang bulu. Negara Khilafah akan mensinerjikan peran antara sekolah, masyarakat, dan keluarga untuk menciptakan iklim pendidikan yang kondusif. Negara Khilafah akan menciptkan kurikulum yang terpadu berdasarkan tingkatan pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi. Negara Khilafah akan mendorong pengembangan IPTEK dengan memberikan penghargaan yang besar kepada para peneliti dan penulis buku, tidak seperti Negara Kapitalis Sekuler yang lebih menghargai tukang hibur yang memabukkan dari pada cendikiawan. Negara Khilafah akan menjadikan peserta didik menjadi manusia yang benar-benar manusia yang faham dirinya hanyalah seorang hamba untuk beribadah kepada Tuhannya, tidak seperti Negara Sekuler-Kapitalis yang produknya adalah manusia mesin yang tidak tahu tujuan hidupnya yang hakiki. Sekali lagi tugas pertama dan utama bagi kita semua adalah mendirikan Khilafah Islamiyah yang dijanjikan Rasulullah agar kehidupan kita selamat dunia dan akhirat. Mari kita melakukan penyadaran kepada seluruh masyarakat agar sama-sama memahami kewajiban ini. Sedangkan kepada mereka yang sudah tercebur kedalam lumpur intelektual sekuler marilah segera tobat sebelum terlambat. Pintu tobat belum tertutup, sudah saatnya bertobat dari sistem pendidikan sekuler-materialistik ini. Tobat yang bukan hanya sebatas mengingat kesedihan, mengenang wajah pendidikan yang buram dan semua keburukan dunia pendidikan masa lampau tanpa berfikir untuk memperbaiki diri kedepannya. Sebab, sudah banyak acara-acara tobat nasional digelar, istighosah-istighosah juga tidak henti-hentinya dilakukan. Bahkan diantaranya juga dihadiri oleh pemimpin negeri ini dan beberapa pejabat jajarannya. Akan tetapi do’a yang diucapkan seakan hilang ditelan bumi tanpa pengaruh apa-apa, masalah tidak kunjung terurai bahkan bertambah runyam. Hal ini tidak lain karena tobat yang digelar tersebut bukanlah tobat sebenarnya. Tobat tersebut tidak lebih dari sekedar tobat seremonial untuk meramaikan media masa. Buktinya setelah melakukan tobat Pemimpin dan pejabat negeri ini bukannya menempuh jalan kesolehan dengan berpedoman kepada petunjuk Allah yakni Islam, akan tetapi kembali melakukan maksiat yang besar dengan mengikuti jalan salah yang selama ini telah menyempitkan hidup mereka. Agar tobat yang kita lakukan tidak sia-sia, marilah kita bergegas membangun sistem pendidikan Islam, dalam negara Khilafah, yang akan melahirkan generasi berkepribadian Islam dan menguasai sains teknologi. Generasi inilah yang akan mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia di seluruh dunia. ALLAHUAKBAR!!!

Minggu, 04 November 2012

MOtivasi


A.     Motivasi

1.      Pengertian Motivasi
            Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu ( Suarly dan Bahtiar,2009)

            Ngalim Purwanto (2002) Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.Sedangkan (sortell dan Kaluzn dalam Suarly dan Bahtiar, 2009) mengartikan motivasi sebagai perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan atau menjalankan kekuasaan, terutama dalam berprilaku.

            Berdasarkan dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu terutama dalam berprilaku.

2.      Faktor- faktor yang mempengaruhi motivasi
Motivasi merupakan sebuah determinan penting, namun masih ada factor factor lain yang mempengaruhinya, seperti umur, pendidikan, latar belakang keluarga, pengalaman kerja (Usmara,2006)

            Menurut Purwanto (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi adalah sebagai berikut:
a.       Faktor fisik
Motivasi yang ada dalam diri individu yang mendorong untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan fisik seperti kebutuhan jasmani, raga, materi, benda atau berkaitan dengan alam, factor fisik merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi lingkungan dan kondisi seseorang, meliputi : kondisi fisik lingkungan, keadaan atau kondisi kesehatan umur dan sebagainya.
b.      Faktor herediter (lingkungan dan kematangan usia)
Motivasi di dukung oleh lingkungan berdasarkan kematangan atau usia seseorang
c.       Faktor Intrinsik seseorang
Motivasi yang berasal dalam diri sendiri biasanya timbul dari perilaku yang dapat memenuhi kebutuhan sehingga puas dengan apa yang sudah dilakukan.
d.      Fasilitas (sarana dan prasarana)
Motivasi yang timbul karena adanya kenyamanan dan segala yang memudahkan dengan tersedianya sarana-sarana yang dibutuhkan untuk hal yang diinginkan.
e.       Situasi dan kondisi
Motivasi yang timbul berdasarkan keadaan yang terjaddi sehingga mendorong memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu.
f.       Program dan aktivitas
Motivasi yang timbul atas dorongan dalam diri seseorang atau pihak lain yang didasari dengan tujuan tertentu.
g.      Audio visual
Motivasi yang timbul dengan adanya informasi yang didapat dari perantara sehingga mendorong atau menggugah hati seseorang untuk melakukan sesuatu.
h.      Umur
Semakin cukup umur, tingkat ketenangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang berfikir logis dan bekerja sehingga motivasi seseorang kuat dalam melakukan suatu hal.
i.        Jenis kelamin
Menurut Bukit dalam Renny Yusniati (2008) karakteristik jenis kelamin  adalah identtas biologis yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Secara umum diasumsikan perenpuan memiliki motif berprestasi lebih rendah dibandingkan laki-laki, sehingga motivasi belajar perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Menurut Maritza dalam Renny Yusniati (2008), hal ini disebabkan pola pengasuhan dari orang tua kepada laki-laki dan perempuan dan menjelasakan bahwa, laki laki didorong orang tua mereka untuk menampilkan keunggulan  dan mereka juga diberikan kebebasan lebih awal dibandingkan anak perempuan. Sebaliknya, anak perempuan cenderung lebih banyak dibantu dan diberikan perlindungan secara berlebihan oleh orang tua. Pola asuh seperti initentunya akan menghambat motif berprestasi mereka. Sehingga, prestasi anak laki-laki lebih tinggi disbanding anak perempuan.

Sedangkan menurut Marquis (2006), motivasi dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu factor intrinsic dan faktor Ekstrinsik.Faktor Ekstrinsik adalah sesuatu yang datang dari luar individu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.Sedangkan faktor intrinsic adalah sesuatu yang datang langsung dari dalam diri individu sesuai dengan tingkat individu tersebut untuk mencapai suatu keinginan sehingga menimbulkan suatu tingkah laku.Faktor intrinsic terdiri dari umur, pengetahuan dan pendidikan.Sedangkan faktor ekstrinsik meliputi lingkungan, fasilitas ekonomi dan kesehatan.


3.      Teori motivasi
      Secara umum, teori motivasi dibagi dlaam dua kategori, yaitu teori kandungan (content), yang memusatkan perhatian pada kebutuhan dan sasaran, tujuan dan teori proses, yang banyak berkaitan dengan bagaiman orang berperilaku dan mengapa mereka berperilaku dengan cara tertentu. Hal paling penting dari kedua teori itu seperti tertera di bawah ini

a.       Teori Abraham H. Maslow
            Teori motivasi yang didasarkan dari asas kebutuhan (need).Kebutuhan seseorang menyebabkan seseorang berusaha untuk memenuhinya.Motivasi adalah psikologis yang dapat menjelaskan perilaku seseorang.Prilaku hakikatnya merupakan orientasi pada suatu tujuan. Dengan kata lain, prilaku seseorang dirancang untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tersebut diperlukan proses interaksi dari beberapa unsure. Dengan demikian, motivasi merupakan kekuatan yang mendiring seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti:
1)   Keinginan yang hendak dipenuhi
2)   Tingkah laku
3)   Tujuan
4)   Umpaan balik (Slocum J.W and Heriegel, dalam Uno, 2011)

            Teori motivasi yang dikembangkan oelh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu:
1)      Kebutuhan fisiologikal, seperti: rasa lapar, haus, istirahat dan sex.
2)      Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata akan tetapi mental, psikologikal dan intelektual.
3)      Kebutuhan akan kasih sayang (love needs)
4)      Kebutuhan akan harga diri (esteem needs) yang pada umumnya tercermin dalam berbagai symbol-simbol status.
5)      Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

b.      Teori Herzberg
            Selanjutnya teori 2 fakktor Herzberg, teori ini menyatakan bahwa kepuasan dan ktidak-puasan seseorang dipengaruhi oleh  dua kelompok faktor independen yakni faktor-faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Rasa kepuasan kerja dan rasa ketidak-puasan kerja tidak berada dalam satu kontinum.Lawan kepuasan kerja bukan ketidak-puasan kerja, juga lawan ketidak-pusaan kerja bukan kepuasan kerja.Lawan kepuasan kerja ialah tidak ada kepuasan-kerja, sedangkan lawan ketidakpuasan kerja ialah ada kepuasan-kerja.
              Faktor-faktor yang merupakan penggerak motivasi (faktor-faktor intrinsic) ialah:
1)      Pengakuan (cognition), artinya seseorang memperoleh pengakuan dari pihak perusahaan bahwa dia adalah seorang yang berprestasi, dikatakan baik, diberi penghargaan, pujian, dimanusiakan dan sebagainya.
2)      Tanggung Jawab (Responbiliti), artinya karyaean diserasi tanggung jawab dalam pekerjaan yang dilaksanakan, tidak hanya melakasaanakan pekerjaan semata-mata.
3)      Prestasi (Achievement), artinya karyawan memperoleh kesempatan untuk mencapai hasil yang baik (bayak, berkualitas atau berprestasi).
4)      Pertumbuhan dan perkembangan (growth and development), artinya dalam pekerjaab itu ada kesempatan bagi karyawan untuk tumbuh dan bekembang.
5)      Pekerjaan itu sendiri (Job inself), artinya memang pekerjaan yang dilakukan itu sesuai dan menyenangkan bagi karyawan.
                        Adapun faktor-faktor  pemelihara motivasi (faktor ekstrinsik) ialah:
1)      Gaji (salary)
2)      Kedudukan
3)      Perhubungan antar pribadi dengan teman sederajat, atasamn atau bawahan.
4)      Kondisi lingkungan

                             Menurut Herzberg meskipun faktor-faktor pendorong motivasi baik keadaanya, tetapi jika faktor-faktor pemeliharaanya tidak baik keadaanya, tidak akan meimbulkan dorongan melakukan pekerjaan. Oleh sebab itu untuk meningkatkan motivasi dengan cara perbaikan faktor-faktor pemeliharaan, baru kemudian faktor faktor pendorong motivasi (Hasibuan,2010).

c.       F.W. Taylor dan Manajemen Ilmiah
Pendekatan ini memusatkan perhatian membuat pekerjaan seefektif mungkin dengan merampingkan metode kerja, dan penilaian pekerjaan. Pekerjaan dibagi-bagi ke dalam berbagai komponen, diukur dengan menggunakan teknik-teknik penelitian pekerjaan dan diberi imbalan sesuai dengan produktifitas. Dengan pendekatan ini, motivasi yang disebabkan imbalan keuangan dapat dicapai dengan memenuhi sasaran-sasaran keluaran. Pemikiran inilah yang melatarbelakangi sebagian besar penelitian pekerjaan yang didasarkan pada skema imbalan (insentif).

d.      Teori Keberadaan, Keterkaitan, dan Pertumbahan (Existence, Relatedness, and Growth  ERG)  Aldefer.
Aldefer merumuskan kembali hierarki Maslow dalam tiga kelompok, yang dinyatakan sebagai Keberadaan, Keterkaitan, dan Pertumbahan (Existence, Relatedness, and Growth  ERG), yaitu:
1)      Kebutuhan akan Keberadaan
Adalah semua kebutuhan yang berkaitan dengan keberadaan manusia yang dipertahankan.
2)      Kebutuhan Keterkaitan
Adalah kebutuhan yang berkaitan dengan hubungan kemitraan.
3)      Kebutuhan Pertumbuhan
Adalah kebutuhan yang berhubungan dengan perkembangan potensi perorangan.

Menurut teori ERG, semua kebutuhan itu timbul pada waktu yang sama. Kalau satu tingkat kebutuhan tertentu tidak dapat dipuaskan, seseorang kelihatannya kembali ke tingkat lain.
e.        Teori Manusia Kompleks
Kebanyakan teori motivasi menganggap orang termotivasi oleh suatu jenis pendorong. Model utamanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)         Manusia Ekonomi, yang termotivasi terutama oleh imbalan keuangan.
2)         Mansuia Siosial, yang motivasinya dipengaruhi terutama oleh sifat hubungan kemitraan dalam pekerjaan
3)         Manusia yang Mengaktualisasikan Diri,  seperti yang dinyatakan dalam Hierarki Maslow.

4.      Jenis jenis Motivasi
Praktek motivasi harus digunakan dengan tepat dan seimbang supaya dapat meningkatkan semangat kerja, kapan motivasi tersebut digunakan. Jenis motivasi tersebut diantaranya (Hasibuan, 2009)
a.       Motivasi Positif (intensif posititf), bentuknya memberikan hadiah kepada mereka yang berperstasi baik. Dengan motivasi positif ini semnagat kerja bawahan akan meningkat, karena manusia pad umumnya senang menerima yang baik baik saja
b.      Motivasi negative ( (intensif negative), bentuknya dengan memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaanny akurang baik (prestasi rendah). Dengan memotivasi negative ini semangat kerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat, karena mereka takut dikhukum, tetapi untuk jangka waktu panjang dapat berakibat kurang baik.



5.      Metode Motivasi
Terdapat dua metode dalam motivasi yaitu metode langsung dan metode tidak langsung (Hasibuan, 2010)

a.       Motivasi Langsung
Motivasi langsung adalah motivasi (materil dan non materil) yang diberikan secara langsung kepada individu utnuk memenuhi kebutuhan serta kepuasannya.Jadi sifatnya khusus, seperti pujian, penghargaan dll.
b.      Motivasi tidak langsung
Motivasi tidak langsung adalah motivasi yang diberikan hanya merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunkang gairah kelancaran tugsa sehingga individu betah dan bersemangat melakukan kerjanya.