Senin, 29 Juli 2013

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban ya ramadhan..
suasana suka cita terasa ketika menyambut ramadhan bulan penuh keberkahan dan keagungan ini. Suasana peribadahan yang begitu kuat menjadikan semua orang yang mengaku muslim mau tidak mau akan terbawa. Pada bulan ini masjid masjid dan mushala penuh oleh para jamaah untuk melaksanakan shalat tarawih. Tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, semua mengikuti ibadah sunnah tersebut meski banyak juga yang hanya ikut-ikutan.

Rasulullah SAW menjelaskan betapa agungnya ramadhan ini . pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Setiap muslim diwajibkan berpuasa dan Allah memberikan ganjaran berlipat ganda kepadanya yang beramal shalih dibulan ini.Bahkan, Allah memberikan pahala yang luar biasa di lailatul qadar, berupa paha senilai amal shalih selama 1000 bulan atau 83 tahun lebih.


Namun ada satu hal yang terlupakan dari momentum ramadhan ini yakni semangat perjuangan. Mungkin bagi sebagian besar kaum muslimin justru lemas dan kurang semangat karena kekurangan energi. Sehingga etos kerja justru menurun. Jam kerja berkurang. Padahal kalau kita mau menengok sejarah rasulullah dan para sahabat, justru mereka bertambah semangatnya dalam beramal shlaeh ketika ramadahan. Mereka tidak beramal shaleh individual yang hemat energy, namun justru beramal shalih sosial yang memerlukan energi yang besar. Mereka dengan gembira bertempur di medan jihad demi meraih kemuliaan ramadhan.


Di negeri ini suasana ramadhan dari tahun ke tahun memang kian semarak. Namun secara kehidupan , kaum muslimin hidup dalam keprihatinan. Didalam negeri, menjelang ramadhan pemerintah memberikan kado pahit bagi kaum muslimin yaitu kenaikan harga BBM, padahal seperti yang kita ketahui tanpa kenaikan harga BBM pun menjelang Ramadhan harga kebutuhan pokok selalu naik, Hal ini menyebabkan beban rakyat semakin berat. apalagi bagi mereka yang berada dalam kemiskinan. Alasan utama yang selalu dikemukakan oleh pemerintah menaikan harga BBM adalah selama ini subsidi BBM telah salah sasaran dan yang menikmati BBM bersubsidi adalah mayoritas golongan ekonomi menengah-atas, karena salah sasaran dan memberatkan keuangan Negara, maka BBM bersubsidi harus dinaikan. Kalau subsidi BBM salah sasaran lalu bagaimana hutang century yang di subsidi oleh pemerintah, Korban lumpur lapindo yang juga di ambil oleh pemerintah paahal penyebab lumpur lapindo ini adalah perusahaan swasta yang pemiliknya termasuk 40 orang terkaya. Pemerintah hanya berdalih “menyelamatkan” APBN nyatanya menyengsarakan rakyat.


Kondisi kaum muslimin seperti ini tidak akan banyak berubah jika kondisi global kaum muslimin tidak diubah. Pangkal persoalan semua itu adalah tidak diterapkannya syariah islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Gara-gara tidak ada yang menyatukan, kaum muslimin terpecah belah secara politik. Karenanya ramadhan semestinya menjadi momentum untuk perubahan karena kaum muslimin sedang dalam suasana keimanan dan ketaatan kepada Allah Swt.


Perubahan yang dimaksud tentu saja bukan hanya perubahan yang sifatnya individual semata. Perubahan itu bersifat sistemik dan komprehensif. Maka tidak tepat kalau orang yang berpuasa hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa mau peduli urusan ummat. Saatnya kaum muslim bangkit ke medan dakwah melaksanakan amar makruf nahi munkar untuk mengembalikan Islam ke posisi semula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar