Selasa, 19 Maret 2013
PENDIDIKAN INDONESIA BERLUMUR DOSA DARI AKAR HINGGA BUAH
Akhir-akhir ini institusi pendidikan di Indonesia semakin dituntut untuk menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas itu sendiri didefinisikan sebagai sesuai dengan kebutuhan pasar lapangan kerja. Kurikulum-kurikulum pendidikan yang dibuat, universitas- universitas yang didirikan adalah untuk mencetak masyarakat yang siap dimanfaatkan oleh pasar. Orientasi pendidikan yang sejatinya sebagai proses pembentukan kepribadian dan pendewasaan kedepannya akan berubah menjadi alat produksi yang penekanannya focus untuk menyediakan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar, lebih tepatnya kebutuhan para kapitalis/pemilik modal.
Sistem pendidikan seperti ini pada akhirnya melahirkan manusia-manusia mesin. Pandai secara akademis tapi buta pemahaman agamanya, memiliki ketrampilan tetapi tidak memiliki kepribadian baik. Lebih buruk lagi, yang dihasilkan adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moral. Ini adalah out put umum dari sistem pendidikan dewasa ini.
Hal ini terjadi karena sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan sekular. Sebagaimana yang tertuang pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagaman, dan khusus. Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini merupakan dosa paling mendasar system pendidikan Indonesia. Terbukti, system model sekularisme seperti itu telah gagal melahirkan manusia salih berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan zaman melalui penguasaan sains dan teknologi.
Betapa banyak kaum intelektual lulusan pendidikan umum yang tetap saja 'buta agama' dan rapuh kepribadiannya? Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai tsaqâfah Islam dan sisi kepribadiannya secara relatif tergarap baik. Akan tetapi, di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi. Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama tidak mampu terjun di sektor modern, mereka terkumpul di dunianya sendiri (pesantren, madrasah, dosen/guru agama, Depag).
Dunia pendidikan dikatakan semakin maju dengan pengembangan ilmu pengetahuan - teknologi (iptek) dan riset di berbagai bidang keilmuan. Tapi faktanya, universitas-universitas terkemuka yang sibuk dengan urusan pemeringkatan riset ilmiah, justru gagal memberikan jawaban untuk masalah narkoba, free sex, tawuran, hura-hura, kebencian, iri hati, balas dendam, ketidakjujuran, korupsi dan berbagai bentuk kehancuran moral lainnya. Yang lahir dari pendidikan sekulerisme tersebut adalah sikap materialistic. Dimana pendidikan bukan lagi sebuah proses pembentukan kepribadian dan pendewasaan diri untuk bisa hidup bermartabat tetapi pendidikan tidak lebih sekadar upaya atau sarana mencari pekerjaan. Pendidikan merupakan sabuk pengaman untuk meraih sukses materi dan karier dimasa depan.
Lebih jauh pendidikan Sekuler-Materialistik ini berkontribusi melahirkan peserta didik yang pragmatis. Mungkin hanya sedikit di antara mereka yang memegang nilai idealisme, selebihnya lebih pragmatis. Sekadar ilustrasi, pernah ada salah seorang tenaga pengajar mengadakan survei mengenai sosok dosen yang diidealkan. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Sosok dosen ideal adalah yang santai, tidak banyak tugas dan memberi nilai mudah. Sebaliknya, yang dibenci adalah yang konsisten, disiplin, banyak tugas dan nilainya mahal.
Belum lagi sikap apatis yang sudah menggejala disebagian intelektual muda/ mahasiswa sebagai akibat system pendidikan sekuler ini. Mereka sama sekali tidak peduli dengan penderitaan dan kesengsaraan masyarakat. Bagi mereka yang penting selamat secara pribadi. Ngapain susah-susah mikirin nasib umat. Nonton sepakbola bagi mereka jauh lebih menyenangkan daripada mengikuti forum-forum kajian yang membincangkan persoalan umat. Kondisi seperti ini melahirkan budaya individualis yang semakin tajam. Bagi mahasiswa seperti ini keberhasilan studi merupakan cita-cita yang paling dijunjung tinggi dan senantiasa jadi haluan perjuangannya. Bagi mereka, standar keberhasilan itu adalah meraih nilai studi yang setinggi-tingginya. Biasanya, kehidupan mahasiswa seperti ini hanya berkisar antara rumah dan kampus. Kupu-kupu (Kuliah pulang-kuliah pulang). Angan-angan mereka kalau sudah lulus kelak adalah pekerjaan yang mantap dengan gaji yang besar, istri yang cantik, fasilitas yang mewah, dan anak-anak yang lucu dan manis.
Hanya saja, ketika dunia dikendalikan oleh kaum intelektual produk pendidikan sekuler seperti itu hasilnya adalah seperti yang sekarang ini sudah kita lihat bersama. Ketimpangan ekonomi, ketidakadilan hukum, degradasi moral, makin terkikisnya kohesi sosial, kezaliman dimana-mana dan semua kebrobrokan menghiasi negeri ini. Aktor-aktor utama yang bermain dibalik semua kehancuran yang menimpa Indonesia dan seluruh dunia adalah mereka yang berasal dari kalangan intelektual produk pendidikan sekuler.
Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang membuat negeri yang kaya ini terpuruk dalam perangkap hutang. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang memberikan kekayaan alam negeri ini kepada asing dan membiarkan rakyatnya mati kelaparan. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang begitu mudah menghukum nenek Minah lantaran mencuri 3 buah cacao dan begitu sulitnya menjerat seorang Anggodo Wijoyo dan koruptor kelas hiu ganas lainnya. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang menyebabkan Porong Sidoharjo hilang dari sejarah. Konon kerugian yang diakibatkan ulah PT. Lapindo mencapai 45 Triliun! Dan hingga saat ini belum jelas pertanggungjawabannya terhadap masyarakat. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang selalu menyatakan bahwa pasar bebas itu baik, membiarkan mekanisme pasar bekerja itu bentuk perekonomian yang unggul. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang selalu memuja dan memuji ekonomi Neolib yang sudah terbukti sangat ringkih. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang selalu pintar mengambil muka terhadap Barat terutama Obama dan menjadikan Amerika seakan malaikat penolong, padahal Negara penjajah itu hingga saat ini, tidak bisa menolong diri sendiri keluar dari krisis ekonomi yang sedang menimpanya. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang selalu menjadi antek bagi Negara-negara Kapitalis penjajah dengan ketundukan secara total. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang senantiasa membenci kaum muslim untuk beribadah secara kaffah kepada Allah. Mencurigai mereka yang beramal saleh, membela mereka yang beramal salah. Mereka kaum intelektual-sekuler lah yang selalu menghalang-halangi kaum muslim dari upaya menerapkan Syari’ah Islam dibawah naungan Khilafah. Mereka yang berasal dari kalangan intelektual-sekuler lah yang menyebabkan kehancuran negeri ini. Ini semua merupakan bentuk dosa besar kaum intelektual-sekuler yang akan direkam jelas oleh sejarah.
Ini semua tidak boleh didiamkan terus menerus jika tidak kehancuran akan semakin parah. Dosa-dosa yang dilakukan oleh kaum intelektual-sekuler tersebut telah meluluhlantakkan semua sendi kehidupan karena itu harus segera dihentikan. Disinilah peran kita. Bahwa kita semua berkewajiban untuk menyelesaikan persoalan pendidikan negeri ini dengan penyelesaian mendasar secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perombakan secara total yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma Islam. Bentuk nyata dari solusi mendasar itu adalah mengubah total UU Sistem Pendidikan yang ada dengan cara menggantinya dengan UU Sistem Pendidikan Islam. Hal paling mendasar yang wajib diubah tentunya adalah asas sistem pendidikan. Sebab asas sistem pendidikan itulah yang menentukan hal-hal paling prinsipil dalam sistem pendidikan. Sesungguhnya paradigma pendidikan Islam memberikan jawaban atas persoalan pendidikan sekuler ini dengan pendidikan karakter yakni menciptakan anak didik yang berkepribadian Islam, mememiliki pemahaman yang dalam terhadap tsaqofah Islam, menguasai IPTEK dan ketrampilan yang memadai.
Sistem pendidikan yang materialistik-sekularistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekular. Maka upaya untuk menciptakan pendidikan Islam tidak akan sampai pada tujuan jika negara yang menaungi masih negara sekuler. Oleh karena itu, maka kewajiban pertama dan utama kita semua adalah merubah negara yang berdiri ringkih diatas landasan sekulerisme ini kepada Negara yang berdiri kokoh diatas landasan ideology Islam. Itulah Negara Khilafah Islamiyah! Islam telah menentukan bahwa negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan dan mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para Khalifah dahulu.
Negara Khilafah akan menggratiskan biaya pendidikan untuk seluruh rakyatnya tanpa pandang bulu. Negara Khilafah akan mensinerjikan peran antara sekolah, masyarakat, dan keluarga untuk menciptakan iklim pendidikan yang kondusif. Negara Khilafah akan menciptkan kurikulum yang terpadu berdasarkan tingkatan pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi. Negara Khilafah akan mendorong pengembangan IPTEK dengan memberikan penghargaan yang besar kepada para peneliti dan penulis buku, tidak seperti Negara Kapitalis Sekuler yang lebih menghargai tukang hibur yang memabukkan dari pada cendikiawan. Negara Khilafah akan menjadikan peserta didik menjadi manusia yang benar-benar manusia yang faham dirinya hanyalah seorang hamba untuk beribadah kepada Tuhannya, tidak seperti Negara Sekuler-Kapitalis yang produknya adalah manusia mesin yang tidak tahu tujuan hidupnya yang hakiki. Sekali lagi tugas pertama dan utama bagi kita semua adalah mendirikan Khilafah Islamiyah yang dijanjikan Rasulullah agar kehidupan kita selamat dunia dan akhirat. Mari kita melakukan penyadaran kepada seluruh masyarakat agar sama-sama memahami kewajiban ini.
Sedangkan kepada mereka yang sudah tercebur kedalam lumpur intelektual sekuler marilah segera tobat sebelum terlambat. Pintu tobat belum tertutup, sudah saatnya bertobat dari sistem pendidikan sekuler-materialistik ini. Tobat yang bukan hanya sebatas mengingat kesedihan, mengenang wajah pendidikan yang buram dan semua keburukan dunia pendidikan masa lampau tanpa berfikir untuk memperbaiki diri kedepannya. Sebab, sudah banyak acara-acara tobat nasional digelar, istighosah-istighosah juga tidak henti-hentinya dilakukan. Bahkan diantaranya juga dihadiri oleh pemimpin negeri ini dan beberapa pejabat jajarannya. Akan tetapi do’a yang diucapkan seakan hilang ditelan bumi tanpa pengaruh apa-apa, masalah tidak kunjung terurai bahkan bertambah runyam. Hal ini tidak lain karena tobat yang digelar tersebut bukanlah tobat sebenarnya. Tobat tersebut tidak lebih dari sekedar tobat seremonial untuk meramaikan media masa. Buktinya setelah melakukan tobat Pemimpin dan pejabat negeri ini bukannya menempuh jalan kesolehan dengan berpedoman kepada petunjuk Allah yakni Islam, akan tetapi kembali melakukan maksiat yang besar dengan mengikuti jalan salah yang selama ini telah menyempitkan hidup mereka.
Agar tobat yang kita lakukan tidak sia-sia, marilah kita bergegas membangun sistem pendidikan Islam, dalam negara Khilafah, yang akan melahirkan generasi berkepribadian Islam dan menguasai sains teknologi. Generasi inilah yang akan mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia di seluruh dunia. ALLAHUAKBAR!!!
Minggu, 04 November 2012
MOtivasi
A. Motivasi
1. Pengertian
Motivasi
Motivasi
adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi kontribusi pada tingkat
komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan,
menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu (
Suarly dan Bahtiar,2009)
Ngalim
Purwanto (2002) Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu.Sedangkan (sortell dan Kaluzn dalam Suarly dan Bahtiar, 2009)
mengartikan motivasi sebagai perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang
melakukan atau menjalankan kekuasaan, terutama dalam berprilaku.
Berdasarkan
dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah karakteristik
psikologis manusia yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu terutama
dalam berprilaku.
2. Faktor-
faktor yang mempengaruhi motivasi
Motivasi merupakan sebuah
determinan penting, namun masih ada factor factor lain yang mempengaruhinya,
seperti umur, pendidikan, latar belakang keluarga, pengalaman kerja
(Usmara,2006)
Menurut
Purwanto (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi adalah sebagai
berikut:
a. Faktor fisik
Motivasi yang ada dalam diri individu yang mendorong
untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan fisik seperti kebutuhan
jasmani, raga, materi, benda atau berkaitan dengan alam, factor fisik merupakan
faktor yang berhubungan dengan kondisi lingkungan dan kondisi seseorang, meliputi
: kondisi fisik lingkungan, keadaan atau kondisi kesehatan umur dan sebagainya.
b. Faktor herediter (lingkungan dan
kematangan usia)
Motivasi di dukung oleh lingkungan berdasarkan kematangan
atau usia seseorang
c. Faktor Intrinsik seseorang
Motivasi yang berasal dalam diri sendiri biasanya timbul
dari perilaku yang dapat memenuhi kebutuhan sehingga puas dengan apa yang sudah
dilakukan.
d. Fasilitas (sarana dan prasarana)
Motivasi yang timbul karena adanya kenyamanan dan segala
yang memudahkan dengan tersedianya sarana-sarana yang dibutuhkan untuk hal yang
diinginkan.
e. Situasi dan kondisi
Motivasi yang timbul berdasarkan keadaan yang terjaddi
sehingga mendorong memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu.
f. Program dan aktivitas
Motivasi yang timbul atas dorongan dalam diri seseorang
atau pihak lain yang didasari dengan tujuan tertentu.
g. Audio visual
Motivasi yang timbul dengan adanya informasi yang didapat
dari perantara sehingga mendorong atau menggugah hati seseorang untuk melakukan
sesuatu.
h. Umur
Semakin cukup umur, tingkat ketenangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang berfikir logis dan bekerja sehingga motivasi
seseorang kuat dalam melakukan suatu hal.
i.
Jenis kelamin
Menurut Bukit dalam Renny Yusniati (2008) karakteristik
jenis kelamin adalah identtas biologis
yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Secara umum diasumsikan perenpuan
memiliki motif berprestasi lebih rendah dibandingkan laki-laki, sehingga
motivasi belajar perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Menurut Maritza
dalam Renny Yusniati (2008), hal ini disebabkan pola pengasuhan dari orang tua
kepada laki-laki dan perempuan dan menjelasakan bahwa, laki laki didorong orang
tua mereka untuk menampilkan keunggulan
dan mereka juga diberikan kebebasan lebih awal dibandingkan anak perempuan.
Sebaliknya, anak perempuan cenderung lebih banyak dibantu dan diberikan
perlindungan secara berlebihan oleh orang tua. Pola asuh seperti initentunya
akan menghambat motif berprestasi mereka. Sehingga, prestasi anak laki-laki
lebih tinggi disbanding anak perempuan.
Sedangkan menurut Marquis (2006),
motivasi dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu factor intrinsic dan faktor
Ekstrinsik.Faktor Ekstrinsik adalah sesuatu yang datang dari luar individu yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.Sedangkan faktor intrinsic adalah
sesuatu yang datang langsung dari dalam diri individu sesuai dengan tingkat
individu tersebut untuk mencapai suatu keinginan sehingga menimbulkan suatu
tingkah laku.Faktor intrinsic terdiri dari umur, pengetahuan dan pendidikan.Sedangkan
faktor ekstrinsik meliputi lingkungan, fasilitas ekonomi dan kesehatan.
3. Teori
motivasi
Secara umum, teori motivasi dibagi
dlaam dua kategori, yaitu teori kandungan (content), yang memusatkan perhatian
pada kebutuhan dan sasaran, tujuan dan teori proses, yang banyak berkaitan
dengan bagaiman orang berperilaku dan mengapa mereka berperilaku dengan cara
tertentu. Hal paling penting dari kedua teori itu seperti tertera di bawah ini
a. Teori Abraham H. Maslow
Teori
motivasi yang didasarkan dari asas kebutuhan (need).Kebutuhan seseorang
menyebabkan seseorang berusaha untuk memenuhinya.Motivasi adalah psikologis
yang dapat menjelaskan perilaku seseorang.Prilaku hakikatnya merupakan
orientasi pada suatu tujuan. Dengan kata lain, prilaku seseorang dirancang
untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tersebut diperlukan proses interaksi dari
beberapa unsure. Dengan demikian, motivasi merupakan kekuatan yang mendiring
seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Kekuatan-kekuatan ini pada
dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti:
1) Keinginan yang hendak dipenuhi
2) Tingkah laku
3) Tujuan
4) Umpaan balik (Slocum J.W and
Heriegel, dalam Uno, 2011)
Teori
motivasi yang dikembangkan oelh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada
pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu:
1) Kebutuhan fisiologikal, seperti:
rasa lapar, haus, istirahat dan sex.
2) Kebutuhan rasa aman (safety
needs), tidak dalam arti fisik semata akan tetapi mental, psikologikal dan
intelektual.
3) Kebutuhan akan kasih sayang (love
needs)
4) Kebutuhan akan harga diri (esteem
needs) yang pada umumnya tercermin dalam berbagai symbol-simbol status.
5) Aktualisasi diri (self
actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk
mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi
kemampuan nyata.
b. Teori Herzberg
Selanjutnya
teori 2 fakktor Herzberg, teori ini menyatakan bahwa kepuasan dan ktidak-puasan
seseorang dipengaruhi oleh dua kelompok
faktor independen yakni faktor-faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Rasa
kepuasan kerja dan rasa ketidak-puasan kerja tidak berada dalam satu
kontinum.Lawan kepuasan kerja bukan ketidak-puasan kerja, juga lawan
ketidak-pusaan kerja bukan kepuasan kerja.Lawan kepuasan kerja ialah tidak ada
kepuasan-kerja, sedangkan lawan ketidakpuasan kerja ialah ada kepuasan-kerja.
Faktor-faktor yang merupakan
penggerak motivasi (faktor-faktor intrinsic) ialah:
1) Pengakuan (cognition), artinya seseorang memperoleh pengakuan dari pihak
perusahaan bahwa dia adalah seorang yang berprestasi, dikatakan baik, diberi
penghargaan, pujian, dimanusiakan dan sebagainya.
2) Tanggung Jawab (Responbiliti),
artinya karyaean diserasi tanggung jawab dalam pekerjaan yang dilaksanakan,
tidak hanya melakasaanakan pekerjaan semata-mata.
3) Prestasi (Achievement),
artinya karyawan memperoleh kesempatan untuk mencapai hasil yang baik (bayak,
berkualitas atau berprestasi).
4) Pertumbuhan dan perkembangan (growth
and development), artinya dalam pekerjaab itu ada kesempatan bagi karyawan
untuk tumbuh dan bekembang.
5) Pekerjaan itu sendiri (Job
inself), artinya memang pekerjaan yang dilakukan itu sesuai dan
menyenangkan bagi karyawan.
Adapun
faktor-faktor pemelihara motivasi
(faktor ekstrinsik) ialah:
1) Gaji (salary)
2) Kedudukan
3) Perhubungan antar pribadi dengan
teman sederajat, atasamn atau bawahan.
4) Kondisi lingkungan
Menurut
Herzberg meskipun faktor-faktor pendorong motivasi baik keadaanya, tetapi jika
faktor-faktor pemeliharaanya tidak baik keadaanya, tidak akan meimbulkan
dorongan melakukan pekerjaan. Oleh sebab itu untuk meningkatkan motivasi dengan
cara perbaikan faktor-faktor pemeliharaan, baru kemudian faktor faktor
pendorong motivasi (Hasibuan,2010).
c. F.W. Taylor dan Manajemen Ilmiah
Pendekatan
ini memusatkan perhatian membuat pekerjaan seefektif mungkin dengan
merampingkan metode kerja, dan penilaian pekerjaan. Pekerjaan dibagi-bagi ke
dalam berbagai komponen, diukur dengan menggunakan teknik-teknik penelitian
pekerjaan dan diberi imbalan sesuai dengan produktifitas. Dengan pendekatan
ini, motivasi yang disebabkan imbalan keuangan dapat dicapai dengan memenuhi
sasaran-sasaran keluaran. Pemikiran inilah yang melatarbelakangi sebagian besar
penelitian pekerjaan yang didasarkan pada skema imbalan (insentif).
d. Teori Keberadaan, Keterkaitan, dan
Pertumbahan (Existence, Relatedness, and
Growth ERG) Aldefer.
Aldefer
merumuskan kembali hierarki Maslow dalam tiga kelompok, yang dinyatakan sebagai
Keberadaan, Keterkaitan, dan Pertumbahan (Existence,
Relatedness, and Growth ERG), yaitu:
1) Kebutuhan akan Keberadaan
Adalah
semua kebutuhan yang berkaitan dengan keberadaan manusia yang dipertahankan.
2) Kebutuhan Keterkaitan
Adalah
kebutuhan yang berkaitan dengan hubungan kemitraan.
3) Kebutuhan Pertumbuhan
Adalah
kebutuhan yang berhubungan dengan perkembangan potensi perorangan.
Menurut
teori ERG, semua kebutuhan itu timbul pada waktu yang sama. Kalau satu tingkat
kebutuhan tertentu tidak dapat dipuaskan, seseorang kelihatannya kembali ke
tingkat lain.
e. Teori Manusia Kompleks
Kebanyakan
teori motivasi menganggap orang termotivasi oleh suatu jenis pendorong. Model
utamanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)
Manusia Ekonomi, yang termotivasi terutama oleh
imbalan keuangan.
2)
Mansuia Siosial, yang motivasinya dipengaruhi
terutama oleh sifat hubungan kemitraan dalam pekerjaan
3)
Manusia yang Mengaktualisasikan
Diri, seperti
yang dinyatakan dalam Hierarki Maslow.
4.
Jenis jenis Motivasi
Praktek motivasi harus digunakan dengan tepat dan
seimbang supaya dapat meningkatkan semangat kerja, kapan motivasi tersebut
digunakan. Jenis motivasi tersebut diantaranya (Hasibuan, 2009)
a. Motivasi Positif (intensif
posititf), bentuknya memberikan hadiah kepada mereka yang berperstasi baik. Dengan
motivasi positif ini semnagat kerja bawahan akan meningkat, karena manusia pad
umumnya senang menerima yang baik baik saja
b. Motivasi negative ( (intensif
negative), bentuknya dengan memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaanny
akurang baik (prestasi rendah). Dengan memotivasi negative ini semangat kerja
bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat, karena mereka takut dikhukum,
tetapi untuk jangka waktu panjang dapat berakibat kurang baik.
5. Metode
Motivasi
Terdapat dua metode dalam motivasi yaitu metode langsung
dan metode tidak langsung (Hasibuan, 2010)
a. Motivasi Langsung
Motivasi langsung adalah motivasi (materil dan non
materil) yang diberikan secara langsung kepada individu utnuk memenuhi
kebutuhan serta kepuasannya.Jadi sifatnya khusus, seperti pujian, penghargaan
dll.
b. Motivasi tidak langsung
Motivasi tidak langsung adalah motivasi yang diberikan
hanya merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunkang gairah
kelancaran tugsa sehingga individu betah dan bersemangat melakukan kerjanya.
Langganan:
Postingan (Atom)